DEMOCRAZY.ID – Kelompok Hamas mengecam kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke kawasan terowongan dan situs penggalian di bawah kompleks Masjid Al-Aqsa dan Tembok Al-Buraq di Yerusalem Timur.
Hamas menilai kunjungan tersebut, yang disertai pernyataan Netanyahu mengenai situs suci tersebut, sebagai tindakan yang mengancam identitas dan status Masjid Al-Aqsa.
“Masuknya Benjamin Netanyahu ke terowongan dan situs penggalian di bawah Masjid Al-Aqsa yang diberkahi dan Tembok Al-Buraq, disertai pernyataan provokatif, merupakan serangan terang-terangan terhadap identitas dan status Al-Aqsa,” demikian pernyataan Hamas dikutip dari kanal Telegram Hamas.
View this post on Instagram
Baca Juga
Hamas menegaskan bahwa kompleks Masjid Al-Aqsa, termasuk halaman, ruang salat, tembok, dan gerbangnya, akan tetap menjadi tempat ibadah Islam.
Kelompok tersebut juga menolak aktivitas penggalian dan upaya yang disebutnya sebagai usaha mengubah identitas kawasan tersebut.
“Masjid Al-Aqsa—secara keseluruhan, termasuk halaman, ruang salat, tembok, dan gerbangnya, akan tetap menjadi masjid Islam secara eksklusif,” kata Hamas.
Kunjungan Netanyahu berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas warga Israel di kawasan Kota Tua Yerusalem menjelang Yom Kippur.
Netanyahu dan istrinya, Sara, terlihat berada di salah satu terowongan penggalian di bawah kawasan Tembok Barat ketika ritual doa Yahudi berlangsung.
Dalam sebuah video yang dibagikan Netanyahu, dia mengatakan bahwa dirinya berada di terowongan dekat Tembok Al-Buraq dan menyebut kawasan tersebut berkaitan erat dengan sejarah bangsa Israel.
“Kami berada di terowongan di Tembok Al-Buraq. Menyentuh batu yang menjadi bagian dari keberadaan kami merupakan sesuatu yang menggerakkan. Kami berada sangat dekat dengan tempat yang paling suci, dan kami akan selalu berada di sini,” ujar Netanyahu dalam video tersebut.
Kunjungan tersebut terjadi bersamaan dengan laporan mengenai masuknya ratusan warga Israel ke halaman kompleks Masjid Al-Aqsa.
Pemerintah Provinsi Yerusalem Palestina melaporkan sekitar 570 orang telah memasuki halaman Al-Aqsa pada Minggu pagi dan melakukan ritual keagamaan dalam rangka Yom Kippur.
Kawasan Al-Aqsa merupakan salah satu titik paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Aktivitas di sekitar situs tersebut kerap memicu kecaman dan ketegangan karena menyangkut status keagamaan serta klaim yang saling bertentangan atas Yerusalem Timur.
Hamas dalam pernyataannya menegaskan bahwa penggalian, kunjungan, ritual, maupun upaya untuk memaksakan narasi tertentu tidak akan mengubah identitas situs tersebut.