DEMOCRAZY.ID — Peta konstelasi politik nasional menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 diprediksi bakal diwarnai pertarungan multi-poros yang sarat dengan pertarungan kepentingan strategis.
Analisis tajam ini disampaikan oleh Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, yang memetakan setidaknya ada empat kekuatan poros utama yang berpotensi berhadapan langsung dengan kubu petahana, yakni Faksi Hambalang di bawah komando Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Efriza, dinamika politik saat ini masih sangat cair dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan pergeseran aliansi partai.
Kendati demikian, sejumlah episentrum kekuatan politik mulai menampakkan wujudnya masing-masing.
“Ada kemungkinan banyak partai yang mencoba membangun poros dalam menghadapi Pilpres 2029,” ujar Efriza, Jumat (11/9/2026).
Berdasarkan pembacaan konstelasi yang berkembang di lingkar kekuasaan dan oposisi, Efriza merinci peta kekuatan poros-poros politik yang berpotensi meramaikan bursa kontestasi mendatang:
1. Poros Solo: Diidentifikasikan sebagai representasi kekuatan politik jaringan mantan Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, serta Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Poros ini menjadi pusat kalkulasi bagi kelompok yang berupaya mempertahankan trah kekuasaan sebelumnya.
2. Poros Cikeas: Kekuatan politik yang berpusat pada Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Poros ini memiliki basis historis dan jejaring kuat yang siap mengambil momentum strategis.
3. Poros Teuku Umar: Merepresentasikan kubu oposisi atau kekuatan independen tradisional di luar lingkar Istana yang dikomandoi oleh PDI Perjuangan bersama sang Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
4. Poros Gondangdia: Poros alternatif yang diidentikkan dengan figur mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, yang dinilai masih memiliki daya tawar elektoral serta potensi merangkul partai-partai di luar koalisi besar.
Selain keempat kekuatan utama tersebut, Efriza tidak menutup kemungkinan bakal lahirnya poros-poros alternatif baru yang dimotori oleh partai-partai non-parlemen maupun kekuatan koalisi lintas faksi.
Lebih lanjut, Efriza mengingatkan bahwa struktur koalisi permanen yang dibangun saat ini tidak serta-merta akan memiliki komposisi yang sama persis di dalam pemerintahan Prabowo hingga akhir masa jabatan.
Faktor perolehan suara legislatif, tingkat elektabilitas figur, hingga pertimbangan pragmatis partai politik akan menjadi penentu utama arah haluan dukungan.
Ia memperkirakan peta koalisi baru akan terlihat jauh lebih terang dan mengerucut tatkala memasuki dua tahun menjelang hari pencoblosan Pilpres 2029.
“Kemungkinan munculnya koalisi permanen dengan komposisi berubah itu ada. Koalisi permanen berkategori minus,” pungkasnya.