DEMOCRAZY.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya buka-bukaan kenapa menerapkan gaya komunikasi ala koboi alias ceplas-ceplos dan berani saat pertama kali menjabat.
Usai setahun jabat Menkeu, Purbaya mengaku banyak mendapatkan keluhan hingga tertawaan orang-orang lantaran menggunakan gaya koboi tersebut.
Ia beralasan kalau saat pertama kali menjabat Menkeu, Indonesia saat itu menghadapi aksi demo besar-besaran.
Makanya ia mesti mengembalikan kepercayaan masyarakat.
“Saya pernah belajar macroeconomics of self-fulfilling prophecy. Jadi kita membentuk ekspektasi, dan ekspektasi itu nanti biasanya ekonomi berjalan ke arah sana, cenderung ke arah sana. Dalam waktu dekat kan susah untuk itu. Ya terpaksa ya omong gede,” katanya dalam media briefing di RM Medan Baru, Sunter, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Purbaya mengatakan kalau gaya koboi ini membuatnya dicap sombong oleh publik.
Namun ia menegaskan kalau itu memang strategi yang disiapkan untuk membentuk ekspektasi positif publik.
“Jadi kalau kata pengetahuan itu, kata self fulfilling prophecy itu, kalau semua berpikir ekonomi akan bagus, nanti kenyataannya akan cenderung bagus,” lanjutnya.
Apabila ekspektasi ekonomi membaik, maka itu berdampak ke banyak sektor.
Mulai dari investor yang tak takut untuk investasi, masyarakat tak khawatir belanja, hingga perusahaan yang tak takut ekspansi.
Purbaya menyebut itu terjadi lantaran mereka menilai ekonomi akan membaik.
Namun sebaliknya, jika masyarakat khawatir terjadi resesi ekonomi, itu akan benar-benar terjadi.
Maka dari itu, Purbaya menggunakan gaya koboi untuk menciptakan ekspektasi positif publik.
Ia menegaskan kalau itu bukan untuk membuatnya sombong, tetapi memang strategi untuk membalikkan ekonomi ke arah positif.
“Paling kita lihat, boleh dibilang, selama setahun terakhir kan ekonominya sudah lumayan stabil. Walaupun ada protes di sana-sini ya, namun kita kan baru keluar dari keterpurukan, perlambatan yang signifikan sampai triwulan ketiga tahun lalu,” jelas Purbaya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan suka duka setelah setahun resmi menjabat.
Usai menggantikan Menkeu Sri Mulyani sejak 8 September 2025, ia mengaku berat badannya turun hingga 14 kilogram.
Purbaya bercerita saat awal-awal menjabat Menkeu, dirinya memiliki berat badan hingga 102 kilogram.
Namun beberapa waktu lalu berat badannya pernah turun hingga 88 kilogram
“Paling gampang kalau lihat badan saya kan. Pas jadi menteri saya 102 (kg). Sekarang 97-98 (kg). Sebelumnya turun sampai 88. Berarti kerjanya memang berat di Kementerian Keuangan,” katanya dalam media briefing di RM Medan Baru, Sunter, Jakarta, Selasa (8/9/2026).
Sedangkan untuk suka, Purbaya mengaku kalau ia senang menjabat Menkeu karena bisa menguji teori ekonomi yang sudah dipelajari untuk kebijakannya.
“Terus kalau sukanya sih fun. Kalau untuk ilmuwan seperti saya, ekonom kan ilmuwan ya. Itu paling menarik adalah ketika kita bisa menguji teori-teori di lapangan langsung. Dan kita lihat hasilnya sesuai dengan apa yang kita prediksi atau yang kita rencanakan,” lanjutnya.
Bendahara Negara menilai kalau pertumbuhan ekonomi RI saat ini memang belum terlalu kencang.
Tapi dia memastikan kalau ekonomi Indonesia saat ini sudah keluar dari kutukan pertumbuhan 5 persen.
Purbaya memaparkan pada triwulan keempat 2025, pertumbuhan ekonomi RI mencapai 5,39 persen.
Kemudian triwulan pertama 2026 naik 5,61 persen.
Meskipun di triwulan kedua ekonomi sempat turun 5,29 persen, Purbaya menyebut kalau itu karena terjadinya konflik global.
Ia percaya diri ekonomi bisa tumbuh mendekati 6 persen di akhir tahun 2026.
“Tapi sekarang siap untuk gerak ke arah 6 persen lagi. Saya pikir triwulan keempat tahun ini bisa mendekati 6 persen pertumbuhannya. Jadi untuk senangnya sih di situ, untuk ekonom seperti saya, yang paling menarik adalah ketika teori bisa diuji di lapangan. Dan tadi hasilnya sesuai dengan kenyataan,” bebernya.
Lebih lanjut Purbaya memastikan kalau pihaknya mulai memaksimalkan sektor swasta untuk pertumbuhan ekonomi.
Begitu pula dengan Pemerintah lewat belanja anggaran.
“Tapi yang penting adalah saya sudah bisa melihat mesin pertumbuhan mulai bergerak. Sektor swasta mulai bergerak pelan-pelan, lebih cepat dari sebelumnya. Pemerintah juga berjalan dengan baik. Harusnya sih kalau ini dijaga terus, ya pertumbuhan 6 persen enggak terlalu jauh untuk kita lihat dalam waktu tidak terlalu lama,” jelas Purbaya.