Geger Kritikan Pedas Guru SMA di Garut ke Prabowo Soal MBG: Program Sampah, Buang-Buang Uang, Mending Ditutup!

DEMOCRAZY.ID – Ramai di media soal seorang guru di sebuah sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Garut Jawa Barat memberikan pesan menohok kepada Presiden Prabowo soal program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dalam video yang beredar, tampak sang guru tengah membersihkan ompreng yang penuh sisa makanan MBG yang tidak dikonsumsi.

Sang guru yang tidak memperlihatkan sosoknya, dengan tekun membersihkan setiap ompreng sehingga tempat sampah di sekitarnya dipenuhi makana MBG yang terbuang sia-sia.

Sambil membuangi makanan yang tidak dikonsumsi, sang guru menyuarakan keresahan atas anggaran negara yang terbuang sia-sia dan mengusulkan agar alokasi dana raksasa tersebut diahlikan untuk pembebasan biaya sekolah.

“Bilang ke Pak Prabowo, ini jadi sampah! Buang-buang uang, mending ditutup!” cetusnya, dikutip Selasa (1/9/2026).

Kritik serupa juga disampaikan seorang guru lainnya, yang juga berasal dari Garut.

Dalam unggahan yang dilansir di laman Tiktok Mak Teti, sang guru menilai, daripada anggaran besar terus mengalir namun berakhir mubazir, dana tersebut akan jauh lebih bermanfaat jika dialihkan untuk pelayanan pendidikan gratis sampai jenjang SMA.

Menurutnya, akses sekolah tanpa biaya merupakan kebutuhan yang jauh lebih mendesak serta memberikan dampak yang lebih nyata bagi masa depan siswa.

Selain itu, teknis penyaluran yang rapel di lapangan kerap memicu kebingungan dan beban psikologis bagi para pendidik yang harus berhadapan langsung dengan pertanyaan wali murid.

“Tukang MBG na anu boga batina, urang anu lieurna (tukang MBG yang punya duit, kita yang kebagian pusingnya),” tegasnya.

Ia juga menyoroti ketimpangan di mana penyedia vendor MBG mengantongi keuntungan, sementara para guru harus menanggung kerumitan operasional dan kekecewaan di lapangan.

Fenomena gunungan sisa makanan dari program MBG tidak hanya terjadi di Garut.

Di beberapa daerah, bahkan pihak sekolah dan siswa mencoba mencari jalan keluar secara mandiri agar limbah organik tersebut tidak menumpuk di tempat pemrosesan akhir.

Di SMA Negeri 7 Manado, misalnya, para siswa yang tergabung dalam Green Community dan gerakan Pramuka berinisiatif mengumpulkan sisa nasi, sayur, dan kulit buah untuk difermentasi menjadi cairan eco-enzyme serta diolah menggunakan media maggot sebagai pupuk organik ramah lingkungan.

Kepala SMA Negeri 7 Manado, Willem H.

Rawung, menjelaskan bahwa langkah pengolahan sisa bahan organik tersebut ditujukan sebagai sarana edukasi bagi para siswa.

“Saya ingin siswa menyadari bahwa limbah, khususnya limbah organik, sebenarnya bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna. Dari sini, siswa belajar tentang tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Willem.

Senada dengan hal itu, Ketua Green Community SMA Negeri 7 Manado, Jhofan Margani, menyebutkan bahwa aksi tersebut merupakan kontribusi nyata siswa dalam menjaga ekosistem sekolah.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa siswa juga memiliki peran dalam menjaga lingkungan sekolah dan mendukung pelaksanaan Program MBG agar lebih ramah lingkungan,” tuturnya.

Namun, pengolahan sisa makanan menjadi pupuk maupun pakan maggot dinilai hanya menyelesaikan hilir masalah, tanpa menyentuh akar persoalan utama, yakni pemborosan anggaran berskala besar di tingkat hulu.

Studi internal yang dirilis oleh Center of Economic and Law Studies (CELIOS) mengungkapkan bahwa potensi nilai makanan terbuang dari program MBG mencapai angka yang sangat fantastis.

Peneliti CELIOS, Isnawati Hidayah, membeberkan bahwa kalkulasi tingkat penolakan makanan oleh siswa—yang dipicu oleh faktor rasa, higienitas, dan kualitas gizi yang kurang memadai—menghasilkan dua skenario pemborosan anggaran harian dan mingguan.

“Kalau kita membicarakan MBG memang tidak ada habisnya. Banyak sekali keresahan terutama dari para orang tua. Makanannya itu banyak yang dibuang dan belum ada yang bisa meng-capture sebenarnya loss-nya itu seberapa,” kata Isnawati.

Berdasarkan perhitungan CELIOS, pada skenario minimal saja, terdapat sekitar 62 juta porsi makanan yang terbuang setiap minggunya, dengan estimasi nilai kerugian mencapai Rp622 miliar per minggu.

Sementara pada skenario maksimal, jumlah uang negara yang melayang terbuang menjadi sampah ditaksir menyentuh angka Rp1,27 triliun setiap pekan.

Isnawati memberi gambaran bahwa dana yang terbuang per bulan pada skenario minimal sebenarnya setara dengan pembayaran iuran BPJS Kesehatan gratis bagi sekitar 15,5 juta jiwa selama satu bulan penuh.

Apabila kalkulasi menggunakan skenario maksimal, dana terbuang tersebut mampu membiayai iuran BPJS Kesehatan bagi 31,6 juta jiwa.

“Jadi sebenarnya uang yang terbuang sebanyak itu dalam perminggunya, kalau kita asumsikan satu bulan saja, bisa untuk membayar BPJS masyarakat secara gratis,” lugasnya.

Melihat besarnya angka pemborosan dan risiko kegagalan tata kelola, CELIOS merekomendasikan agar pemerintah segera mengambil langkah tegas berupa jeda evaluasi secara menyeluruh.

“Rekomendasi kami konsisten, yaitu moratorium, reformasi total MBG, dan audit transparan evaluasi, sehingga mencegah pemborosan uang rakyat yang lebih besar,” pungkas Isnawati.

Artikel terkait lainnya