DEMOCRAZY.ID – Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang kembali muncul ke publik setelah cukup lama tak terdengar kabarnya.
Nanik membagikan cerita mengenai keputusannya meninggalkan jabatan strategis tersebut.
Ia mengaku memilih mundur demi menjaga kesehatan dan ketenangan hidupnya.
Lewat unggahan di Facebook pribadinya, Nanik mengatakan kini ingin kembali ke khittah dengan menjalani hidup tanpa tekanan.
“Kembali ke Khittah berbuat tanpa batas, tanpa pamrih, tanpa prasangka, tanpa tekanan, tanpa syarat. Menjaga kewarasan di tengah dunia yang penuh tekanan memang menuntut mental yang kuat, menetapkan batasan diri, dan menolak arus toksik,” tulis Nanik, Rabu (19/8/2026).
Nanik mengungkapkan, keputusan mundur dari kursi Kepala BGN sempat disayangkan sejumlah orang.
Salah satu sahabatnya bahkan menganggap keputusan tersebut sebagai sesuatu yang sulit dipahami.
Menurut Nanik, sang sahabat menilai banyak orang justru mengincar posisi Kepala BGN karena memiliki anggaran yang besar.
“Saat saya bilang ke sahabat saya mau mundur, teman saya bilang, waduh sayang bangettt, gila lu semua orang pengin duduk di kursi elu eh elu malah mundur. Semua orang ngincer sebagai Kepala BGN, budget anggaran lu paling tinggi. Dan presiden percaya elu bla bla,” kenangnya.
Namun, Nanik memiliki alasan tersendiri. Ia mengaku tidak nyaman memegang anggaran besar karena setiap hari dihantui rasa takut dan waswas.
“Mendengar apa yang dikatakan teman saya di atas saya hanya jawab, justru saya gak kuat pegang anggaran besar, karena setiap hari hidup saya terteror oleh rasa takut dan was-was, termasuk terteror yang punya kepentingan,” ungkapnya.
Nanik mengatakan, tak sedikit pula pihak yang mendukung keputusannya untuk meninggalkan jabatan tersebut.
Bagi mereka, jabatan hanya berkaitan dengan ambisi dan kehormatan. Sementara kesehatan menjadi modal utama agar seseorang tetap bisa menjalani hidup dan memberikan manfaat.
“Meski ada yang menyayangkan saya mundur, namun banyak juga yang justru mendukung saya mundur. Karena jabatan menurut mereka hanya ambisi kehormatan, sedangkan kesehatan adalah kunci melanjutkan hidup untuk bisa berbuat banyak lewat jalur mana pun,” ujarnya.
Pengalaman menjadi pejabat, kata Nanik, memberinya pelajaran penting.
Salah satunya tentang arti hidup tanpa beban.
“Pernah menjadi pejabat adalah episode yang pernah saya lalui, dan memberikan banyak pelajaran, bahwa kadang kita tidak butuh kehormatan, tapi butuh bisa tidur siang tanpa beban,” katanya.
Meski demikian, Nanik menegaskan dirinya bukan kapok menjadi pejabat.
Ia hanya merasa posisi dengan tanggung jawab anggaran sangat besar tidak sesuai dengan dirinya.
“Kapok jadi pejabat? Gak juga, mungkin jadi pejabat dengan anggaran paling besar gak pas saja untuk saya yang punya jiwa meronta,” jelasnya.
Nanik kemudian mengungkap janji yang pernah dibuatnya setelah mengalami long Covid pada 2021.
Ia mengatakan sejak saat itu dirinya bertekad menggunakan hidupnya untuk membantu orang yang membutuhkan dan menjalani kehidupan sesuai keyakinannya.
“Intinya di mana pun berada, sejak saya terkena long covid tahun 2021 saya sudah berjanji pada Allah, bahwa saya berikan hidup saya untuk yang membutuhkan dan hidup di jalan-NYA,” tuturnya.
Nanik juga membagikan cara sederhana yang menurutnya membantu menjaga kesehatan mental, khususnya bagi dirinya yang memiliki masalah jantung.
Menurut dia, salah satu “obat tambahan” adalah mengurangi konsumsi berita dan media sosial yang bisa memicu tekanan.
“Mengobati sakit jantung itu perlu obat tambahan tersendiri yaitu tidak baca berita atau medsos, kalau pengin baca medsos lihat info kulineran yang enak saja,” pungkas Nanik.