DEMOCRAZY.ID — Istilah “Londo Ireng” yang dilontarkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya beberapa waktu lalu terus memantik diskursus panas di ruang publik serta memicu berbagai tafsir di kalangan pengamat politik.
Dalam ulasannya, pengamat politik Rocky Gerung menyoroti bagaimana publik menangkap pesan di balik penggunaan istilah historis tersebut.
Secara sosiologis-historis, Londo Ireng (Belanda Hitam) merujuk pada pihak pribumi di masa kolonial yang memilih berpihak kepada penjajah dan mengkhianati perjuangan bangsa.
Menurut Rocky, ketika diskursus ini ditarik ke dalam pembacaan politik radikal, sebagian kalangan langsung mengaitkannya dengan dinamika kekuasaan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
“Tapi bagi publik umum merasa ya memang ada pengkhianat kok. Siapa yang londo ireng? Misalnya kalau kita radikalkan ya Jokowi,” ujar Rocky dalam kanal YouTube Total Politik, dikutip Selasa (11/8/2026).
Ia menegaskan bahwa bentuk pengkhianatan yang disorot oleh publik maupun kalangan kritis utamanya bermuara pada persoalan kepatuhan terhadap tatanan konstitusi dan etika politik.
Dalam konteks ini pula, Rocky menyebut pihak yang paling merasakan gesekan paling dalam secara politik adalah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.
“Siapa yang mesti ucapkan itu? Publik. Siapa yang paling dendam dengan isu itu? Megawati,” tegasnya.
Kritik tajam yang dialamatkan kepada Jokowi tersebut tidak terlepas dari serangkaian peristiwa politik krusial yang terjadi sebelumnya:
👇👇
Rocky Gerung Sebut Sosok Jokowi Adalah “Londo Ireng” Karena Mengkhianati Konstitusi. pic.twitter.com/qtRYnZzSMq
— 𝕸𝖔𝖓𝖎𝖈𝖆 ᴼᶠᶠⁱᶜⁱᵃˡ (@NenkMonica) August 11, 2026
[FULL VIDEO]
Sebelumnya, polemik ini bermula dari pidato resmi Presiden Prabowo Subianto dalam Peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7/2026).
Dalam arahannya, Prabowo mengingatkan bangsa Indonesia agar mewaspadai mentalitas sebagian elite yang masih gemar mengabdi pada kepentingan asing.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut Londo Ireng. Iya, yang ikut Belanda perang lawan kita, Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada, hanya dia sekarang pakai baju lain kan,” ucap Prabowo.
Selain menyoroti mentalitas pengabdian terhadap kepentingan luar, Prabowo dalam kesempatan yang sama juga melontarkan kritik retoris kepada para pemangku kepentingan di ruang publik, termasuk kalangan jurnalis, pengamat, dan aktivis LSM, untuk senantiasa menjaga objektivitas dan orientasi keberpihakan kepada kedaulatan bangsa sendiri.
Presiden Prabowo Subianto menyebut wartawan, jurnalis, pengamat, dan LSM sebagai ‘londo ireng’.
Ini adalah kesekian kalinya Presiden menyebut soal kecurigaan terhadap ‘antek asing’. https://t.co/DxVkhPVyIq pic.twitter.com/rkiyJTtwNE
Baca Juga— BBC News Indonesia (@BBCIndonesia) July 24, 2026