Prabowo dan Trump Rancang Aliansi Politik Besar, Ambisi Tersembunyi Menuju 2029 Mulai Terkuak ke Publik!

DEMOCRAZY.IDGaya komunikasi politik Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan tajam para pengamat.

Mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lukas Luwarso bahkan menarik garis paralel antara gaya kepemimpinan sang kepala negara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meski menilai ada perbedaan mendasar dalam hal ketahanan institusi negara.

Cermin Donald Trump dan Pertaruhan Ambisi Menuju 2029

Dalam ulasannya, Lukas menyoroti kemiripan gaya bicara spontan (stream of consciousness) yang kerap dipertontonkan oleh Prabowo dan Trump di ruang publik.

Meski sama-sama lekat dengan komunikasi politik tanpa teks yang meledak-ledak, ia menilai tingkat “fatalitas” dari gaya bicara pemimpin Gedung Putih tersebut jauh lebih ekstrem dibanding apa yang ditampilkan oleh mantan Menteri Pertahanan RI itu.

“Jadi ya kan ada kembarannya kan di dunia ini. Ada orang seperti siapa? Donald Trump. Donald Trump itu stream of consciousness-nya dua kali lebih fatal dari Pak Prabowo sebenarnya. Lebih gila dia itu,” ujar Lukas melalui kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (5/8).

Namun, ia memberi catatan tebal bahwa benteng institusional di Amerika Serikat tergolong jauh lebih mapan dan kokoh dalam meredam dampak dari gaya politik yang volatil, sehingga dinamika kekuasaan dapat lebih terkontrol.

Di sisi lain, Lukas mengalihkan perhatiannya pada kalkulasi politik domestik, di mana ia membaca sinyal kuat bahwa ambisi kekuasaan Prabowo masih membara meski masa kepemimpinannya saat ini belum genap berjalan dua tahun.

“Prabowo ini kan baru 2 tahun, belum 2 tahun nih. Jadi tahun 2029 masih berambisi ingin melanjutkan, kan kelihatan sekali itu,” tajamnya.

Polarisasi Diksi Spontan: Antara Blunder Politik dan Ketegasan Otentik

Gaya komunikasi tanpa teks yang kerap dipraktikkan Prabowo memang tidak jarang memantik kontroversi publik serta menuai kritik dari berbagai kalangan.

Sejumlah diksi tajam dan umpatan spontan sempat terekam dalam ingatan kolektif publik, mulai dari penggunaan kata “ndasmu” saat merespons kritik terhadap kabinet gemuk di HUT ke-17 Partai Gerindra, hingga penyematan istilah “Londo Ireng” untuk menyindir pihak-pihak yang dianggap berpihak pada kepentingan asing.

Pernyataan-pernyataan emosional—seperti ketika ia mempersilakan pihak yang menilai masa depan Indonesia suram untuk pindah negara—di satu sisi dinilai berisiko tinggi melahirkan blunder politik yang merusak citra kenegaraan.

Media nasional seperti majalah Tempo kerap mengkritik bahwa narasi kerakyatan yang disampaikan sering kali berjarak atau bahkan kontradiktif dengan realitas produk kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Kendati demikian, bagi barisan pendukung setianya, gaya komunikasi tanpa skrip tersebut justru dibaca sebagai representasi karakter pemimpin yang otentik, jujur, tegas, berapi-api, dan menolak tampil jaim (jaga image) di hadapan rakyat.

Menanggapi berbagai polemik diksi tersebut, pihak Istana sebelumnya telah menegaskan bahwa substansi utama dari setiap pidato Presiden Prabowo senantiasa berorientasi pada pembangunan optimisme nasional, penguatan persatuan, kemandirian ekonomi, serta kedaulatan mutlak negara—bukan sekadar terjebak pada perdebatan potongan kalimat atau pilihan kata yang dipermasalahkan.

Artikel terkait lainnya