

DEMOCRAZY.ID — Di tengah kepungan proses hukum yang kian mendekati babak pembuktian di meja hijau, sikap mengejutkan ditunjukkan oleh aktivis kesehatan Tifauzia Tyassuma alias Dokter Tifa.
Terdakwa kasus dugaan pencemaran nama baik ini secara terbuka menyatakan diri “berhijrah” dari polemik berkepanjangan seputar tuduhan ijazah palsu mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Pernyataan tersebut disampaikan Dokter Tifa melalui sebuah unggahan reflektif yang menyiratkan bahwa babak pertarungannya dalam isu keabsahan dokumen akademik sang mantan kepala negara telah menemui titik jenuh.
Ia menilai bahwa perdebatan panjang yang menyeretnya hingga berstatus sebagai terdakwa di pengadilan sudah saatnya disudahi di ruang publik luar persidangan.
“Ada fase dalam hidup ketika seseorang memutuskan tugasnya bukan lagi bertempur, tetapi menyampaikan kebenaran, lalu melangkah pergi dengan tenang,” ujar Dokter Tifa dalam keterangannya.
Baginya, keputusan untuk melepaskan isu ijazah bukan cerminan dari sikap menyerah, melainkan kesadaran taktis bahwa tidak semua kebenaran harus dipaksakan menang melalui pertengkaran dan keributan yang tak berkesudahan.
“Pilihan hijrah dari isu ijazah bukanlah mundur, melainkan keputusan sadar bahwa kebenaran tidak selalu harus dimenangkan dengan keributan, tetapi cukup ditinggalkan sebagai jejak,” tegasnya.
Meski memilih mundur dari riuh rendah diskursus ijazah di luar ruang sidang, ia memastikan proses pembelaan hukum yang menjeratnya akan tetap ia hormati secara konstitusional.
Dokter Tifa berkomitmen bahwa segala bentuk sanggahan atau pembahasan substansial mengenai polemik tersebut kini sepenuhnya hanya akan ia tumpahkan di hadapan majelis hakim.
“Soal ijazah hanya akan saya bicarakan di pengadilan. Di luar pengadilan saya kembali tajam dan kritis terhadap banyak hal yang berkaitan dengan kepentingan umat,” tandasnya.
Seiring dengan keputusan untuk menutup buku polemik ijazah di ruang publik, Dokter Tifa menyatakan bakal mengalihkan seluruh energi kritikalnya kembali pada spektrum isu-isu strategis yang bersentuhan langsung dengan hajat hidup masyarakat.
Ia berencana kembali memfokuskan panggung pergerakannya pada diskursus seputar perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan kesehatan masyarakat, kontroversi tata kelola vaksin, hingga kewaspadaan terhadap ancaman pandemi di masa depan.
Tidak hanya itu, radar kritiknya juga dipastikan akan kembali menyasar isu-isu makro yang lebih luas, mulai dari dinamika potensi perang dunia, ketegangan geopolitik, hingga sengkarut gejolak sosial dan tekanan ekonomi yang tengah menghimpit rakyat.
Langkah mundur parsial dari lingkaran panas isu ijazah Jokowi ini menandai babak baru orientasi pergerakan Dokter Tifa, di mana ruang publik kini menanti apakah transisi fokus tersebut mampu meredakan ketegangan hukum yang tengah menderanya di meja hijau.