

DEMOCRAZY.ID – Pegiat media sosial, Preciosa Kanti, menyebut bahwa posisi politik Jokowi saat ini semakin tertekan di tengah berbagai polemik dugaan ijazah palsu yang terus berkembang di ruang publik.
Dikatakan Preciosa, sejumlah isu yang menyeret nama Jokowi, mulai dari polemik dugaan ijazah palsu hingga pemberian gelar adat, menjadi bagian dari dinamika yang dinilainya semakin mempersempit ruang politik mantan kepala negara tersebut.
Blak-blakan, Preciosa mengatakan bahwa polemik dugaan ijazah palsu, dugaan korupsi, hingga evaluasi terhadap pemerintahan Jokowi sebagai faktor yang memperburuk posisi politiknya.
“Posisi Jokowi di dunia politik semakin tersudut,” ujar Preciosa, Selasa (4/8/2026).
“Polemik ijazah palsu dan semakin terbukanya borok indikasi korupsi, dusta, dan kegagalan di jaman pemerintahannya,” lanjutnya.
Selain itu, Preciosa juga menyinggung hubungan politik Jokowi dengan Presiden Prabowo Subianto.
Baginya, hubungan keduanya tidak lagi seerat sebelumnya.
“Belum lagi keretakan hubungan dengan Prabowo. Tangan-tangannya mulai dipatahkan satu per satu,” tukasnya.
Preciosa kemudian mengaitkan pandangannya tersebut dengan sejumlah gelar adat yang belakangan diterima Jokowi di berbagai daerah.
Ia menduga hal itu merupakan bagian dari upaya membangun dukungan politik.
“Untuk itulah dia butuh bala riuh di belakangnya. Untuk itu pula dia harus menjadi raja di mana-mana,” Preciosa menuturkan.
“Supaya jika sang raja tersakiti maka akan ada ribuan orang yang diharapkan akan merasa tersakiti juga,” tambahnya.
Lebih jauh, Preciosa kembali menyinggung polemik yang mengiringi pemberian gelar adat kepada Jokowi di sejumlah daerah.
Ia menyebut adanya penolakan dari sebagian tokoh adat terhadap pemberian gelar tersebut.
“Ijazah, digugat. Gelar Baginda-Lampung, diprotes para pemuka. Gelar Raja NTT, ditolak. Hidup di atas kebohongan dan terus menerus mengakali kebenaran Jokowi,” tegasnya.
Preciosa juga bilang bahwa masyarakat kecil dimanfaatkan dalam dinamika tersebut.
“Mirisnya, memakai tangan rakyat sederhana untuk memvalidasi dan glorifikasi rencana. Manipulasi dan iming-iming di atas harapan rakyat kecil! Petaka negara!,” kuncinya.
Sebelumnya, Dominicus Kloit Teiseran, Raja Liurai Malaka ke-15, Kerajaan Malaka Wehali, Kabupaten Malaka, NTT, memberikan klarifikasi terkait pemberitaan gelar adat kepada Jokowi.
Dominicus menyatakan, yang viral Jokowi diangkat jadi Raja Timor tidak bisa dianggap benar.
Yang benar menurutnya adalah Jokowi dikukuhkan sebagai Sesepuh di Timor.
“Jadi kalau orang bilang Jokowi raja di Timor, lalu kami raja sebagai apa? di NTT sudah ada struktur Raja Adat,” ucapnya.
“Jadi Jokowi bukan diangkat jadi Raja melainkan penghargaan yang diberikan adalah Sesepuh di Timor,” tambahnya.