Cendekiawan Muhammadiyah Dr. Sukidi: Saya Tidak Melihat Presiden Prabowo Tumbuh Secara Intelektual

DEMOCRAZY.IDKritik tajam terhadap arah kebijakan strategis rezim di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kembali datang dari kaum intelektual.

Doktor lulusan Harvard University sekaligus cendekiawan terkemuka, Dr. Sukidi Mulyadi, secara terbuka melontarkan kritik pedas atas mandeknya pertumbuhan intelektual penguasa serta bobroknya orientasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) di tanah air.

Dalam pandangannya, masalah paling akut yang dihadapi bangsa ini berakar dari sektor pendidikan yang kian tertinggal jauh, bukan hanya dari panggung global, tetapi juga tertinggal telak dari negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

“Saya tidak melihat bahwa presiden (Prabowo) tumbuh secara intelektual. Padahal dia banyak baca buku. Itu tidak menandakan mempunyai satu pertumbuhan secara intelektual,” ujar Dr. Sukidi, menyoroti kapasitas kepemimpinan nasional yang dinilai jalan di tempat.

Krisis Human Capital: Indonesia Dipenuhi Tenaga Kerja Tak Terampil

Dr. Sukidi membedah secara fundamental bagaimana ketertinggalan di sektor pendidikan—khususnya pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM)—berdampak langsung pada kualitas modal manusia Indonesia (human capital).

Akibat sistem pendidikan yang karut-marut, output yang dilepas ke pasar kerja mayoritas mentok pada level lulusan sekolah menengah.

“Kita menyadari bahwa pendidikan kita itu jauh tertinggal, terutama pada sains, teknologi, engineering, dan matematika itu sendiri. Dan ini terbukti bahwa kita bukan hanya tertinggal jauh dari dunia, tapi juga tertinggal bahkan dibanding dengan negara-negara Asia Tenggara sekalipun,” tegasnya.

Kondisi tersebut, lanjut Sukidi, melahirkan angkatan kerja yang minim daya saing di kancah global.

Terlebih lagi, aspek penguasaan bahasa asing sebagai jendela utama ilmu pengetahuan turut tertinggal jauh dibanding negara-negara ASEAN lainnya.

“Ketertinggalan pada dunia pendidikan itu mengakibatkan bahwa human capital kita yang akhirnya tersebar di pasar tak lebih dari lulusan SMP [dan] SMA. Jadi lulusan-lulusan yang memang unskilled labor. Dan itu membuat mereka tidak bisa kompetitif, apalagi dari aspek penguasaan bahasa Inggris, jauh tertinggal dengan negara-negara Asia Tenggara,” bebernya.

Bagi Sukidi, pendidikan merupakan indikator mutlak kemajuan sebuah peradaban, yang berkolerasi langsung dengan tingkat kecerdasan dan kemakmuran suatu bangsa.

Namun, ia menilai komitmen penguasa untuk membenahi fondasi pendidikan tersebut sama sekali tidak terlihat.

Skakmat Program MBG: “Tidak Ada Teori di Dunia Manapun yang Korelasikan MBG dengan Kemakmuran!”

Paling telak, Dr. Sukidi melayangkan kritik menohok terhadap program unggulan Istana, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), yang selama ini dielu-elukan rezim sebagai solusi utama pembangunan SDM masa depan.

Ia dengan tegas mementahkan narasi tersebut, menyebut program pembagian makanan itu sama sekali tidak memiliki basis teori ekonomi maupun pembangunan global yang mampu mendongkrak kemakmuran bangsa.

“Dan saya tidak melihat bahwa aspek pendidikan ini diperbaiki dengan baik. Melalui MBG? Tidak ada teori di dunia manapun bahwa MBG itu berkorelasi dengan kemakmuran satu bangsa,” pungkasnya menohok.

[VIDEO]

Artikel terkait lainnya