SMRC Bongkar Fakta Mengejutkan: 42 Persen Rakyat Menilai Keadaan Indonesia Saat Ini Berada di Titik Paling Buruk!

DEMOCRAZY.IDKrisis legitimasi di tubuh pemerintahan kian memperlihatkan tanda-tanda nyata.

Berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk Kondisi Ekonomi Politik dan Approval Rating Presiden, sebanyak 42,8 persen masyarakat secara terbuka menilai kondisi politik nasional saat ini berada dalam fase buruk hingga sangat buruk.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengungkapkan bahwa penyusutan keyakinan publik terhadap stabilitas politik nasional terjadi secara masif dalam beberapa bulan terakhir.

Kelompok masyarakat yang masih menganggap kondisi politik berjalan “baik-baik saja” kini tersisa di angka 13,5 persen saja.

“Sejak November 2025 ada penurunan jumlah kelompok yang masih menganggap keadaan baik-baik saja,” ujar Deni Irvani dalam pemaparannya melalui kanal YouTube SMRC TV, Minggu (26/7/2026).

Sebagai catatan perbandingan, pada survei periode November 2025 lalu, publik yang menilai situasi politik dalam kondisi baik masih bertengger di level 35,8 persen.

Artinya, terjadi erosi kepercayaan publik yang sangat tajam seiring merosotnya kepuasan terhadap kinerja pemerintahan.

Rincian Persepsi Publik Terhadap Kondisi Politik

Dalam sigi mutakhir tersebut, SMRC membedah persepsi responden saat diminta menilai kondisi politik nasional secara umum. Hasilnya menunjukkan sebaran angka sebagai berikut:

  • Sangat Baik: 1,7 persen
  • Baik: 11,8 persen
  • Sedang: 33,6 persen
  • Buruk: 31,7 persen
  • Sangat Buruk: 11,1 persen
  • Tidak Tahu / Tidak Menjawab: 10,2 persen

Jika dikalkulasikan secara akumulatif, suara warga yang menyatakan situasi politik berada di jalur negatif (buruk dan sangat buruk) menembus angka 42,8 persen, jauh melampaui mereka yang memandang situasi dalam kategori positif.

Metodologi Riset

Survei kredibel ini dilangsungkan pada rentang tanggal 5 hingga 19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak (random sampling) dari populasi warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih.

Proporsi metode pengumpulan data disesuaikan secara proporsional dengan demografi pengguna perangkat komunikasi, yakni melalui wawancara via telepon sebesar 83,8 persen dan wawancara tatap muka langsung sebesar 16,2 persen bagi warga yang tidak memiliki akses telepon.

Survei ini memiliki tingkat toleransi kesalahan (margin of error) sebesar plus minus 3,7 persen dengan ambang signifikansi statistik minimal 7,4 persen.

Artikel terkait lainnya