Soal Skandal Ijazah Gibran, Sikap Diam Prabowo Dinilai ‘Berbahaya’ dan Berpotensi Memicu Chaos Seperti Prancis!

DEMOCRAZY.ID — Peringatan keras dan menggelegar kembali diarahkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait skandal ijazah SMA/SLTA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kian tak terkendali.

Sikap bungkam Kepala Negara dinilai sangat berbahaya karena menaruh kondusivitas dan stabilitas nasional sebagai taruhannya.

Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas, mendesak Presiden Prabowo untuk segera mengambil sikap tegas demi menyelesaikan polemik hukum dan status keabsahan sang wakil presiden sebelum terlambat.

Diamnya Prabowo Sangat Berbahaya: Ancaman Konflik Horizontal Mengintai

Fernando Emas mengingatkan bahwa pembiaran terhadap skandal ijazah fiktif Gibran dapat memicu tajamnya polarisasi di tengah masyarakat.

Perbedaan pendapat yang kian runcing antara kelompok pro dan kontra berpotensi memantik bentrokan fisik di tingkat akar rumput.

“Kalau persoalan tersebut terus dibiarkan, maka sangat berpotensi akan terjadi konflik horizontal antar mereka yang pro dan kontra terhadap kasus ijazahnya Gibran. Akibatnya sangat berbahaya terhadap keberlangsungan dari Prabowo Subianto,” tegas Fernando, dikutip Rabu (21/10/2026).

Bayang-Bayang Kerusuhan Eropa: Kombinasi Krisis Ekonomi dan Politik

Fernando menyoroti potensi ledakan sosial hebat yang bisa melanda Indonesia, mencontohkan gelombang kerusuhan massal dan instabilitas politik yang tengah mengguncang sejumlah negara Eropa seperti Prancis, Italia, dan Spanyol.

Ancaman itu makin nyata karena kemarahan publik atas skandal ijazah Wapres beririsan langsung dengan kondisi perekonomian nasional yang tengah carut-marut.

Kombinasi inilah yang menjadi pemicu paling mematikan bagi kehancuran sebuah pemerintahan.

“Kombinasi antara tekanan ekonomi dan polarisasi politik akibat isu ijazah inilah yang ditakutkan akan memicu ledakan sosial,” tegasnya memperingatkan.

Bola Liar di DPR: Prabowo Harus Beri Restu Hak Angket

Pasca-penegasan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuktikan bahwa Gibran tidak memiliki ijazah SMA/SLTA sebagai syarat sah pendaftaran Pilpres, status Gibran oleh banyak pihak makin menebal sebagai wakil presiden ilegal.

Karena MK tidak memproses diskualifikasi, bola panas kini sepenuhnya berada di tangan DPR RI di Senayan melalui instrumen Hak Angket.

Fernando menegaskan bahwa mulus atau tidaknya pemakzulan Gibran di parlemen kini bergantung sepenuhnya pada keberanian dan ketegasan sikap Presiden Prabowo.

Jika Prabowo terus membiarkan masalah ini berlarut-larut tanpa keputusan politik yang tegas, amarah publik dan ancaman kerusuhan besar siap menggulung keberlangsungan pemerintahannya sendiri!

Artikel terkait lainnya