Mengenal Sejarah Greenpeace: Berawal dari Aksi Menentang Uji Coba Nuklir hingga Mendunia

DEMOCRAZY.ID – Greenpeace merupakan organisasi lingkungan internasional yang dikenal melalui berbagai kampanye untuk melindungi bumi.

Organisasi ini menyoroti sejumlah persoalan lingkungan, mulai dari kerusakan hutan, pencemaran laut, hingga krisis iklim.

Melalui aksi damai dan kampanye publik, Greenpeace berupaya mendorong pemerintah serta perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sejarah Greenpeace bermula pada 1971, ketika sekelompok aktivis berlayar dari Vancouver, Kanada, menuju Pulau Amchitka di Alaska.

Mereka berusaha menghentikan uji coba senjata nuklir Amerika Serikat yang dikhawatirkan membahayakan lingkungan dan satwa liar di wilayah tersebut.

Dilansir dari situs Greenpeace Indonesia, Rabu (21/10/2026), organisasi ini terus memperluas kampanyenya untuk melindungi lingkungan di berbagai belahan dunia.

Lalu, bagaimana perjalanan Greenpeace hingga berkembang menjadi organisasi lingkungan internasional?

Simak penjabarannya berikut ini:

Berawal dari Penolakan Uji Coba Nuklir

Sebelum dikenal dengan nama Greenpeace, gerakan ini bermula dari pembentukan Don’t Make a Wave Committee pada 1970.

Kelompok tersebut dibentuk oleh sejumlah aktivis yang ingin menghentikan rencana uji coba senjata nuklir Amerika Serikat di Pulau Amchitka, Kepulauan Aleut, Alaska.

Beberapa tokoh yang berperan dalam pembentukan kelompok tersebut antara lain Dorothy dan Irving Stowe, Marie dan Jim Bohlen, Ben dan Dorothy Metcalfe, serta jurnalis Bob Hunter.

Mereka memiliki kepedulian terhadap ancaman senjata nuklir dan dampaknya terhadap lingkungan.

Pulau Amchitka dipilih sebagai lokasi pengujian nuklir bawah tanah oleh Amerika Serikat.

Kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa liar, termasuk berang-berang laut dan elang botak.

Para aktivis khawatir ledakan nuklir dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan sehingga mereka merencanakan aksi langsung untuk menarik perhatian masyarakat.

Asal-usul Nama Greenpeace

Nama Greenpeace lahir dari gagasan untuk menggabungkan dua nilai utama, yakni lingkungan yang hijau dan perdamaian.

Menurut catatan sejarah resmi Greenpeace, ahli ekologi asal Kanada, Bill Darnell, mengemukakan ungkapan “Let’s make it a Green Peace” dalam sebuah pertemuan kelompok aktivis pada 1970.

Ungkapan tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi nama Greenpeace.

Nama itu dianggap mewakili tujuan gerakan untuk menentang ancaman nuklir sekaligus memperjuangkan masa depan bumi yang lebih baik.

Untuk mendukung rencana pelayaran ke Amchitka, para aktivis juga menggalang dana melalui konser amal di Vancouver.

Dukungan dari masyarakat membantu mereka mempersiapkan kapal dan menjalankan misi yang kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah organisasi tersebut.

Pelayaran Pertama Greenpeace pada 1971

Pada 15 September 1971, sekelompok aktivis berangkat dari Vancouver menggunakan kapal nelayan tua bernama Phyllis Cormack.

Kapal tersebut kemudian menggunakan nama Greenpeace selama misi menuju Pulau Amchitka.

Mereka berencana menyaksikan sekaligus memprotes uji coba nuklir yang dilakukan Amerika Serikat.

Perjalanan tersebut tidak berjalan sesuai rencana.

Kapal para aktivis akhirnya dicegat sebelum mencapai lokasi pengujian, sementara uji coba nuklir tetap berlangsung pada 6 November 1971.

Meskipun gagal menghentikan pengujian secara langsung, pelayaran tersebut berhasil menarik perhatian media dan masyarakat terhadap bahaya uji coba nuklir.

Pengujian nuklir di Amchitka berakhir pada tahun yang sama, dan pulau tersebut kemudian ditetapkan sebagai kawasan perlindungan satwa.

Peristiwa itu menjadi awal perkembangan Greenpeace sebagai gerakan yang menggunakan aksi damai untuk mengangkat persoalan lingkungan ke ruang publik.

Greenpeace Berkembang Menjadi Organisasi Internasional

Setelah aksi pertamanya, Greenpeace mulai memperluas kampanye ke berbagai negara.

Pada 1970-an, organisasi ini tidak hanya menyoroti ancaman nuklir, tetapi juga mulai memperjuangkan perlindungan satwa laut, termasuk melalui kampanye menentang perburuan paus komersial.

Salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan Greenpeace adalah David McTaggart.

Ia membantu menyatukan berbagai kelompok Greenpeace yang sebelumnya bergerak secara terpisah, sekaligus memperluas jaringan gerakan tersebut di Eropa.

Pada 1979, Greenpeace International dibentuk untuk mengoordinasikan gerakan Greenpeace di tingkat global.

Organisasi ini kemudian berkembang menjadi jaringan kelompok independen yang menjalankan kampanye lingkungan di berbagai kawasan dunia, dengan pusat koordinasi internasional di Amsterdam, Belanda.

Greenpeace Hadir di Indonesia pada 2005

Perkembangan Greenpeace juga menjangkau Indonesia.

Berdasarkan informasi resmi Greenpeace Indonesia, organisasi ini mulai hadir di Indonesia pada 2005 dan menjalankan berbagai kampanye untuk menyoroti persoalan lingkungan di tingkat nasional.

Sejumlah isu yang menjadi perhatian Greenpeace Indonesia meliputi perlindungan hutan, pelestarian laut, krisis iklim, penggunaan energi, dan pencemaran lingkungan.

Kampanye tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong perubahan kebijakan yang dinilai dapat melindungi lingkungan.

Dalam menjalankan kegiatannya, Greenpeace Indonesia menggunakan berbagai pendekatan, seperti riset, kampanye publik, advokasi, dan aksi damai.

Organisasi ini juga mengajak masyarakat untuk terlibat dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Tujuan dan Peran Greenpeace Saat Ini

Hingga kini, Greenpeace dikenal sebagai organisasi kampanye lingkungan yang berupaya melindungi bumi dan keanekaragaman hayati.

Organisasi ini mendorong pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk mengambil tindakan terhadap berbagai persoalan yang mengancam keberlanjutan lingkungan.

Beberapa fokus kampanye Greenpeace meliputi perlindungan hutan dari deforestasi, pelestarian ekosistem laut, pengurangan pencemaran, serta penanganan krisis iklim.

Greenpeace juga mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan kebijakan yang mendukung keberlanjutan lingkungan.

Untuk menjalankan kampanyenya, Greenpeace mengandalkan riset, penyampaian informasi kepada publik, advokasi, dan aksi tanpa kekerasan.

Organisasi ini juga menyatakan menjaga independensi dengan tidak menerima dana dari pemerintah, perusahaan, maupun partai politik, serta mengandalkan dukungan individu dan sumber pendanaan lain yang sesuai dengan kebijakannya.

Artikel terkait lainnya