DEMOCRAZY.ID — Bahaya besar kini mengintai meja kerja Presiden Prabowo Subianto!
Di tengah desakan pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kian membara pasca-terbongkarnya kebohongan ijazah SMA di Mahkamah Konstitusi, pengamat politik terkemuka Tony Rosyid melayangkan peringatan keras.
Prabowo diminta tidak gegabah dan harus menghitung kalkulasi politik secara cermat sebelum “mengaminkan” langkah pemakzulan Gibran di DPR RI.
Sebab, melengserkan Gibran bukan sekadar menyingkirkan seorang wakil presiden, melainkan membuka kotak Pandora yang siap menyeret Presiden Prabowo sendiri ke dalam pusaran tsunami politik nasional!
Tony Rosyid mengingatkan bahwa proses politik di Senayan tidak pernah berjalan steril dari kepentingan faksi-faksi oligarki.
Ketika pintu impeachment resmi dibuka lebar melalui Hak Angket DPR—yang sebenarnya sangat mudah digalang mengingat mayoritas partai koalisi berada di bawah kendali pemerintah—bola liar tersebut diyakini tidak akan berhenti pada jatuhnya Gibran semata.
“Prabowo perlu menghitung dengan cermat bola liar ini. Ketika impeach kepada dia dibuka, maka bola liar bisa juga digiring untuk menyasar Prabowo,” tegas Tony mengingatkan risiko fatal dari manuver tersebut, Jumat (16/10/2026).
Jika Istana salah melangkah, faksi-faksi yang menunggangi proses pemakzulan dapat memutar arah tekanan untuk mengguncang legitimasi kepemimpinan Prabowo di tengah jalan.
Ancaman terbesar bagi Prabowo jika Gibran diseret keluar Istana bukanlah dari oposisi parlemen, melainkan dari reaksi balik Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Tony memprediksi bahwa Jokowi bersama seluruh aliansi politiknya tidak akan pernah tinggal diam atau pasrah melihat dinasti Solo ditelanjangi begitu saja.
Bagi kubu Solo, kejatuhan Gibran adalah lonceng kematian seluruh jaringan kekuasaan yang telah mereka bangun.
Oleh karena itu, Jokowi dipastikan akan maju sebagai panglima perang untuk memimpin perlawanan at all cost (dengan cara apa pun).
“Jokowi bisa menjadi faktor konsolidasi bagi semua musuh presiden untuk meningkatkan perlawanan. Perlawanan Jokowi dipastikan akan sangat masif dan ‘at all cost’,” ungkap Tony.
Jokowi diyakini bakal piawai memainkan narasi korban dizalimi demi menggalang simpati publik.
Simpati buatan tersebut nantinya akan digunakan sebagai energi tambahan untuk menyatukan seluruh musuh politik Prabowo, kelompok yang kecewa, hingga faksi oligarki yang berseberangan dengan Istana untuk melakukan serangan balik secara masif.
Saat ini, nasib Gibran sepenuhnya berada di ujung tanduk dan tinggal menunggu waktu di DPR RI.
Mengingat fakta yuridis dari Putusan MK telah terang-terangan membuktikan bahwa Gibran tidak memiliki ijazah SMA/SLTA yang menjadi syarat sah pencalonan Pilpres 2024, pintu masuk Hak Angket sejatinya berada dalam genggaman partai pendukung pemerintah.
Prabowo sebenarnya memiliki daya tawar penuh untuk mendorong Partai Gerindra memimpin inisiatif Hak Angket pemakzulan guna membersihkan pemerintahannya dari beban moral dinasti.
Namun, di sinilah letak dilemanya: Apakah Prabowo siap menghadapi gelombang perang total dan perlawanan at all cost dari Jokowi dan jaringan setianya?
Pilihan berada di tangan Presiden: Menjaga kedaulatan hukum dengan menuntaskan pemakzulan Gibran meski harus menghadapi amukan politik trah Solo, atau memilih berkompromi di atas pasir hisap yang sewaktu-waktu siap menenggelamkan pemerintahannya sendiri!