Gelombang Desakan Gibran Mundur Makin Tak Terbendung, Pengamat Warning DPR: Akumulasi Keadilan Terusik, Parlemen Jangan Tuli!

DEMOCRAZY.ID – Diskusi panas mengenai arah politik nasional mencuat di ruang publik.

Dalam siniar Akbar Faizal Uncensored yang dipandu eks jurnalis dan politisi senior Akbar Faizal, perbincangan mendalam mengupas dinamika kekuasaan pasca-putusan MK.

Sorotan utama terhadap keluarga Joko Widodo hingga tuntutan agar Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatannya usai ketahuan tidak memiliki ijazah SMA sederajat.

Diskusi tersebut menghadirkan pengamat politik Ray Rangkuti dan politikus senior Andreas Hugo Pereira.

Polemik dan Tekanan Publik ke Gibran

Akbar Faizal membuka diskusi dengan menyoroti eskalasi tekanan politik dari berbagai elemen masyarakat, aktivis, hingga kelompok intelektual yang mempertanyakan legitimasi kepemimpinan saat ini.

Sorotan utama diarahkan pada posisi Gibran sebagai Wakil Presiden.

“Tekanan demi tekanan terus berdatangan, bahkan hingga ke Gedung DPR. Banyak pihak yang secara terbuka menyuarakan agar keluarga Jokowi melepaskan cengkeraman pengaruhnya, bahkan muncul desakan keras agar Gibran mundur saja. Bagaimana Anda melihat eskalasi ini?” tanya Akbar.

Ray Rangkuti menilai gelombang ketidakpuasan publik berakar dari proses politik kontroversial yang mengantar Gibran ke kursi kekuasaan, khususnya melalui pintu Mahkamah Konstitusi.

Menurutnya, masalah etika dan legitimasi moral menjadi beban yang terus menghantui.

“Apa yang terjadi di ruang publik hari ini adalah akumulasi dari rasa keadilan masyarakat yang terusik. Masalah utamanya bukan sekadar administratif, melainkan menyangkut etika bernegara. Ketika standar etika dilanggar demi melanggengkan kekuasaan keluarga, maka resistensi publik akan terus tumbuh. Desakan agar Gibran mundur adalah bentuk ekspresi hilangnya kepercayaan publik terhadap fondasi moral kepemimpinannya,” jawab Ray, Kamis (15/10/2026).

Sikap Parpol dan Dilema di Parlemen

Sementara itu, Andreas Hugo Pereira memberikan pandangan dari sudut institusi legislatif dan partai politik.

Menurutnya, dinamika di DPR berada dalam situasi dilematis di tengah koalisi besar pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.

“Di parlemen, dinamikanya tentu sangat kompleks. Partai-partai politik memiliki kalkulasi kekuasaan dan strategi tersendiri. Namun, kita juga tidak boleh menutup mata bahwa gelombang kritik dari masyarakat sipil, akademisi, dan para aktivis tetap menjadi alarm penting bagi jalannya demokrasi. Parlemen tidak boleh tuli terhadap aspirasi yang berkembang di luar,” kata Andreas.

Akbar kembali mempertanyakan keberanian politik partai-partai di DPR untuk merespons tuntutan publik atau justru memilih jalan aman demi menjaga status quo koalisi.

“Politik itu dinamis. Tekanan publik yang masif pada akhirnya akan menciptakan ruang-ruang koreksi. Tantangan terbesar kita saat ini adalah bagaimana menjaga agar lembaga perwakilan rakyat tetap berfungsi sebagai kontrol yang efektif, bukan sekadar stempel kekuasaan,” ujar Andreas.

Diskusi tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga kesehatan demokrasi Indonesia agar tidak terjebak pada oligarki keluarga dan pelemahan institusi hukum.

Para narasumber sepakat, tekanan publik yang diarahkan ke DPR maupun lingkaran istana merupakan bagian dari kontrol sosial yang sah dalam negara demokrasi.

Artikel terkait lainnya