DEMOCRAZY.ID — Pegiat media sosial Chusnul Chotimah ikut angkat bicara menanggapi desas-desus panas yang bersumber dari laporan Bocor Alus Politik Tempo, terkait kabar yang menyebut Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, diutus untuk meminta Perry Warjiyo mundur dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Isu tersebut seketika memicu beragam reaksi dari berbagai kalangan, termasuk Chusnul yang melontarkan sindiran telak melalui respons publiknya.
Kendati mengaku belum dapat memastikan kebenaran di balik laporan ihwal penugasan khusus tersebut, Chusnul lantas melontarkan pernyataan bernada satir.
Ia menuturkan, jika benar seorang utusan khusus presiden bisa ditugaskan untuk mendesak pejabat tinggi mundur dari posisinya, maka penugasan serupa sebaiknya dialirkan pula kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Ada isu Raffi Ahmad disebut diduga jadi utusan ‘Paksa’ Perry Warjiyo mundur dari BI,” ujar Chusnul, Selasa (11/8/2026).
“Saya ga tau itu benar atau tidak. Tapi kalau benar saya berharap suatu saat Raffi Ahmad juga jadi utusan ‘Paksa’ Gibran mundur dari wapres,” tegasnya.
👇👇
Ada isu Raffi Ahmad disebut diduga jadi utusan ‘Paksa’ Perry Warjiyo mundur dari BI.
Sy ga tau itu banar atau tidak, tapi kalau benar sy berharap suatu saat Raffi Ahmad juga jadi utusan “Paksa” Gibran mundur dari wapres.
Bgmn kalian setuju ga?🤭@prabowo @Gerindra @bang_dasco
— Chusnul ch💞timah (@ch_chotimah2) August 10, 2026
Laporan siniar Bocor Alus Politik oleh Tempo yang dirilis awal Agustus 2026 mengungkap dugaan Raffi Ahmad (RA) bertindak sebagai utusan untuk menyampaikan pesan agar mantan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengundurkan diri di tengah bayang-bayang masalah hukum.Poin Utama…
— Jusuf Wibisono,SH.MM.MH (@wibisonoys) August 10, 2026
Nama Raffi Ahmad ikut terseret dalam laporan mengenai mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Laporan Bocor Alus Tempo menyebut Raffi diduga menjadi perantara pesan dari Istana agar Perry segera mengundurkan diri. pic.twitter.com/rFdQ9zMRCT
— Koran Jakarta (@koranjakarta_id) August 10, 2026
Isu mengenai desakan agar Gibran melepaskan jabatannya memang tengah menjadi diskursus hangat yang mendominasi ruang publik belakangan ini.
Salah satu figur yang paling vokal menyuarakan tuntutan tersebut adalah pakar hukum tata negara, Denny Indrayana.
Bahkan, sebagai bentuk keseriusannya dalam menguji polemik legitimasi yang terus membayangi, Denny secara terbuka menggelar sayembara berhadiah uang tunai sebesar Rp100 juta bagi siapa saja yang dapat membuktikan dan menunjukkan keaslian ijazah SMA atau sederajat milik sang wakil presiden.
“Sayembara Rp100 juta untuk Ijazah SMA Gibran. Siapapun yang bisa menunjukkan ijazah asli SMA atau sederajat Mas Gibran, akan saya beri hadiah 100 juta Rupiah,” tantang Denny.
Denny menegaskan bahwa tantangan terbuka ini diajukan sebagai garis ukur transparansi.
Jika Gibran mampu membuktikan dan memamerkan ijazah aslinya secara transparan kepada publik, ia berjanji akan menyetop seluruh desakan pemecatannya.
Sebaliknya, apabila dokumen tersebut gagal ditunjukkan, maka mundurnya Gibran dari kursi RI-2 dinilai sebagai langkah paling kesatria yang harus diambil.
“Jika Mas Wapres bisa menunjukkan ijazah asli sma atau sederajat, saya berhenti meminta Gibran mundur. Sebaliknya, jika Mas Wapres tidak bisa tunjukkan, Gibran wajib legowo mundur,” pungkasnya.