

DEMOCRAZY.ID — Kasus hukum yang mendera mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah (FA) terus memantik analisis tajam dari berbagai kalangan.
Di balik jubah penegakan hukum yang dibentangkan, pengamat politik Universitas Nasional (Unas), Selamat Ginting, secara blak-blakan menyebut bahwa perkara ini sarat dengan aroma pertarungan kekuasaan tingkat tinggi.
Menurut Ginting, kasus yang menjerat Febrie tidak bisa dibaca sekadar sebagai proses yudisial murni, melainkan sebuah benturan kepentingan politik yang melibatkan para pengendali kekuasaan di balik layar.
“Ada pertarungan kekuasaan juga di dalam kasus ini,” tegas Ginting saat menjadi narasumber di salah satu program televisi berita nasional, Sabtu (1/8/2026).
Ginting membedah kasus ini melalui lensa politik dengan menimbang sejumlah faktor krusial, terutama rekam jejak jabatan strategis yang pernah diemban Febrie tatkala masih aktif di Korps Adhyaksa.
Selama menjabat sebagai Jampidsus, Febrie memegang kendali atas penanganan berbagai perkara rasuah kakap dengan angka kerugian negara yang bersifat bombastis, serta menyeret nama-nama aktor politik dan pengusaha hitam.
Tak hanya itu, posisi Febrie semakin menjadi “duri dalam daging” bagi para elite tatkala ia didapuk sebagai Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (PKH).
“Terlebih terakhir, misalnya dia sebagai ketua pelaksana penertiban kawasan hutan dan di situ ternyata ada daftar-daftar dugaan bintang-bintang [jenderal] yang kemungkinan akan terseret dalam kasus ini,” ungkap Ginting blak-blakan.
Bukan hanya para jenderal di aparat keamanan, Ginting menduga kuat bahwa lingkaran hitam tersebut turut menyeret sejumlah nama besar dari kalangan birokrat hingga elite pimpinan partai politik.
Ketika instrumen hukum mulai menyasar simpul-simpul kekuasaan yang selama ini kebal hukum, momentum tersebut langsung berbalik menjadi medan pertempuran politik yang mematikan.