Kampus Gak Jelas-Disertasi Plagiat, Bahlil Dibandingkan dengan BJ Habibie: Standar Kecerdasan Kini Berubah?

DEMOCRAZY.IDPublik belakangan ini dibuat berpikir oleh pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang kerap terkesan out of the box.

Teranyar, Prabowo bicara mengenai ukuran kecerdasan yang dianggap tidak semata-mata ditentukan oleh tempat seseorang menempuh pendidikan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo ketika memuji Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

Menanggapi hal tersebut, Aktivis Sosial, Muhammad Said Didu, membandingkan standar kecerdasan yang menurutnya pernah melekat pada sosok BJ Habibie dengan sosok Bahlil yang disebut Prabowo sebagai contoh.

Said Didu Bandingkan Habibie dan Bahlil

Said Didu mengatakan bahwa saat ini terjadi perubahan standar dalam melihat kecerdasan seorang tokoh.

“Dulu standar kecerdasan adalah Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang lulus Doktor Summa Cumlaude di Jerman,” ujar Said Didu, Senin (10/8/2026).

“Sekarang, standarnya adalah Bahlil Lahadalia (kata Pak Prabowo) yang kampusnya tidak jelas dan ketahuan ngejar Doktor lewat jiplakan desertasi,” tambahnya.

Sebelumnya, Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara latar belakang pendidikan dengan kecerdasan seseorang.

Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri acara peluncuran dan bedah buku, ’10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia’ di Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat (7/8/2026) kemarin.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo terlebih dahulu memberikan ucapan selamat kepada Bahlil yang genap berusia 50 tahun.

Ia juga memberikan apresiasi atas peluncuran 10 buku karya Bahlil.

Prabowo kemudian berbicara mengenai perjalanan seseorang hingga dapat menjadi pemimpin.

Menurutnya, terdapat dua jalan yang dapat melahirkan seorang pemimpin.

“Ada pemimpin yang dilahirkan dan pemimpin yang dibesarkan. Dua-dua menurut saya hampir sama. Ada orang yang dilahirkan sudah dalam keadaan yang katakanlah sudah mapan, sudah kaya, dari keluarga yang kuat,” ucap Prabowo.

“Ada yang dilahirkan dari keluarga yang kehidupannya sederhana atau sangat sulit,” lanjut dia.

Refleksi Perjalanan Hidup Bahlil

Prabowo kemudian mengaitkan pandangannya tersebut dengan perjalanan hidup Bahlil.

“Karena DNA pemimpin itu mungkin sudah ada. Mungkin ayahandanya Pak Bahlil walaupun status ekonomi mungkin waktu itu sangat sederhana, tapi mungkin DNA juga sebagai petarung, DNA juga sebagai pemimpin di kawasan itu,” ungkapnya.

Dikatakan Prabowo, latar belakang ekonomi maupun berbagai hambatan yang dihadapi seseorang tidak otomatis menjadi penghalang untuk mencapai posisi kepemimpinan.

Ia juga menekankan bahwa hal tersebut berlaku dalam konteks kecerdasan seseorang.

Prabowo: Kecerdasan Itu Bukan dari Sekolah

Prabowo menegaskan bahwa kecerdasan tidak hanya dapat diukur berdasarkan institusi pendidikan yang pernah ditempuh seseorang.

“Kecerdasan itu bukan dari sekolah menurut saya. Kecerdasan bukan dari sekolah. Dan ini sudah kita buktikan berkali-kali. Hari ini, sekarang kita buktikan lagi Pak Bahlil,” tegas Prabowo.

Prabowo bahkan menyinggung institusi pendidikan tempat Bahlil pernah menempuh pendidikan.

“Saya kira sekolahnya nggak terlalu terkenal Pak Bahlil ya. Kalau dicari di Google kampusnya udah nggak ada. Dan itu sudah kita buktikan di mana-mana. Tidak menjamin sekolahnya di mana. Kecerdasan itu mungkin didapat dari jelas dari orang tua,” lanjut dia.

👇👇

Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian Said Didu.

Ia memilih mengangkat perbandingan dengan Habibie untuk menggambarkan perubahan standar kecerdasan yang menurutnya terjadi dalam pernyataan Prabowo.

Seperti diketahui, Said Didu sebelumnya memang kerap merespons berbagai kebijakan dan pernyataan pemerintah melalui media sosial.

Kali ini, ia menyoroti langsung cara Prabowo mendefinisikan kecerdasan dengan menjadikan Bahlil sebagai salah satu contoh.

Artikel terkait lainnya