GAWAT! Profesor Jiang Bongkar ‘Rencana Rahasia’ AS Kuasai Selat Malaka: Misi Terselubung Hancurkan Ekonomi Negara Ini

DEMOCRAZY.ID – Di tengah bayang-bayang ketegangan global yang kian memanas, Profesor Jiang yang merupakan seorang edukator, penulis, dan analis geopolitik Tionghoa-Kanada, melontarkan peringatan keras yang mengguncang stabilitas geopolitik Asia Tenggara.

Dalam podcast terbaru di akun YouTube The Diary Of A CEO, Jiang mengungkap bahwa kunci kemenangan Amerika Serikat dalam persaingan hegemoninya melawan Cina untuk mendominasi ekonomi global, tidak terletak di medan perang konvensional, melainkan pada pengendalian Selat Malaka.

Karenanya kata Jiang, Selat Malaka akan jadi sasaran berikutnya AS setelah menyerang Iran untuk mendominasi Selat Hormuz.

Jiang menegaskan bahwa Selat Malaka adalah titik cekik atau choke point paling krusial di dunia.

Jika Amerika Serikat berhasil mengendalikan jalur ini secara total, Cina diprediksi akan kehilangan akses terhadap 90 persen impor energi dan sumber daya penting lainnya.

Yang pada akhirnya, kata Jiang dapat meruntuhkan ekonomi Tiongkok dalam waktu singkat.

Jiang menegaskan sekitar sebagian besar perdagangan dan pasokan energi Cina bergantung pada akses melalui Selat Malaka.

Karena itu, apabila jalur tersebut terganggu atau diblokade dalam konflik geopolitik, dampaknya dapat mengguncang ekonomi Cina secara besar-besaran.

“Amerika Serikat hanya perlu menempatkan kekuatan angkatan laut di Selat Malaka, dan Cina akan kehilangan sebagian besar akses energi serta perdagangan strategisnya,” ujar Jiang dalam podcast tersebut.

Selat Malaka Jadi Titik Kritis Dunia

Selat Malaka merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan.

Jalur ini membentang di antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura serta menjadi salah satu choke point perdagangan terpenting di dunia.

Setiap tahun, jutaan barel minyak dan triliunan dolar nilai perdagangan global melintasi kawasan ini.

Tidak hanya Cina, Jepang, Korea Selatan, hingga negara-negara Asia Timur lainnya sangat bergantung pada stabilitas Selat Malaka.

Professor Jiang menilai posisi geografis ini menjadikan Selat Malaka sebagai “senjata geopolitik” yang sangat strategis dalam rivalitas Amerika Serikat dan Cina.

Ia menyebut Washington memahami bahwa dominasi maritim merupakan kunci mempertahankan pengaruh global.

Karena itu, menurutnya, pengendalian terhadap jalur-jalur laut strategis seperti Selat Malaka menjadi bagian penting dari strategi besar Amerika Serikat.

Tiongkok Hadapi Kerentanan Energi

Dalam penjelasannya, Jiang menyoroti ketergantungan energi Cina terhadap impor minyak dari Timur Tengah.

Sebagian besar pasokan itu harus melewati Selat Malaka sebelum masuk ke wilayah Cina.

Kondisi tersebut, kata dia, menciptakan kerentanan jangka panjang bagi Beijing.

“Jika jalur itu terganggu, China menghadapi risiko serius terhadap pasokan energi dan stabilitas ekonominya,” katanya.

Pernyataan itu memicu perhatian luas karena muncul di tengah meningkatnya tensi geopolitik global, termasuk rivalitas ekonomi, perang dagang, hingga persaingan militer di kawasan Indo-Pasifik.

Selat Malaka, Hormuz dan Terusan Panama

Dalam podcast tersebut, Jiang juga membahas strategi Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasi global melalui kontrol terhadap jalur perdagangan dan energi dunia.

Ia menyebut Selat Malaka, Terusan Panama, hingga Selat Hormuz sebagai titik strategis yang menjadi perhatian utama Washington.

Menurut Jiang, penguasaan jalur laut bukan hanya soal militer, tetapi juga soal pengaruh ekonomi global.

“Negara yang mengontrol jalur perdagangan strategis akan memiliki leverage besar terhadap ekonomi dunia,” ujarnya.

Kesepakatan AS-Indonesia

Yang paling mengejutkan dari paparan Jiang adalah narasi mengenai posisi Indonesia.

Ia mengisyaratkan adanya komunikasi intensif dan perjanjian strategis antara Washington dan Jakarta. Kesepakatan ini, menurut Jiang, menjadi landasan bagi AS untuk memarkir kapal induknya di Selat Malaka sebagai bagian dari strategi First Island Chain.

“Amerika hanya perlu memarkir kapal induk mereka di Selat Malaka, dan China akan kehilangan napas ekonominya,” ujar Jiang.

Keterlibatan Indonesia dalam memberikan izin navigasi atau kerja sama pertahanan di wilayah ini dianggap sebagai langkah kunci yang telah diantisipasi oleh para perencana militer AS untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus membendung pengaruh Beijing.

Misi Penyelamatan Dolar AS

Lebih lanjut, Jiang menjelaskan bahwa kontrol atas Selat Malaka dan wilayah perairan Indonesia bukan sekadar soal militer, melainkan soal keberlangsungan Dolar AS.

Dengan menguasai jalur perdagangan utama dunia, AS memastikan bahwa transaksi energi global tetap menggunakan dolar, sekaligus memaksa negara-negara lain untuk tunduk pada sistem keuangan Barat.

Ia menyoroti bahwa upaya de-dolarisasi yang dipelopori oleh aliansi BRICS (termasuk China dan Rusia) akan menemui jalan buntu jika AS masih memegang kendali atas urat nadi perdagangan maritim dunia.

Indonesia di Persimpangan Jalan

Analisis tajam Profesor Jiang ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat dilematis.

Di satu sisi, kerja sama strategis dengan AS memperkuat pertahanan nasional, namun di sisi lain, posisi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi dalam potensi konflik terbuka antara dua kekuatan besar dunia.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia terus menekankan prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Namun, keberadaan perjanjian rahasia atau kesepakatan tingkat tinggi yang disinggung Jiang memberikan perspektif baru bagi para pengamat internasional mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia di masa depan.

Dunia kini menanti, apakah Selat Malaka akan tetap menjadi jalur perdamaian atau justru berubah menjadi pemicu pecahnya konflik skala besar yang telah diramalkan oleh sang profesor.

Bagi Indonesia, pembahasan soal Selat Malaka memiliki arti strategis tersendiri.

Sebagai salah satu negara yang berbatasan langsung dengan jalur tersebut, Indonesia berada di pusat lalu lintas perdagangan global sekaligus pusaran persaingan geopolitik dunia.

Peningkatan ketegangan di kawasan diperkirakan dapat berdampak langsung pada keamanan maritim, ekonomi, hingga stabilitas regional ASEAN.

Karena itu, berbagai pihak menilai penting bagi negara-negara Asia Tenggara menjaga netralitas dan memastikan Selat Malaka tetap menjadi jalur perdagangan internasional yang aman dan terbuka.

Podcast The Diary of a CEO yang menampilkan Professor Jiang sendiri kini ramai diperbincangkan setelah potongan wawancaranya viral di berbagai platform digital dan memicu diskusi luas mengenai kemungkinan eskalasi konflik global di masa depan.

Sumber: Tribun

Artikel terkait lainnya