

DEMOCRAZY.ID – Pengamat politik Muhammad Said Didu memberi analisis terkait isu akan terjadi kerusuhan, seperti 1998. Dia menyarankan Prabowo Subianto membersihkan kabinet dari Geng Solo.
Said Didu mengungkapkan ada sejumlah perbedaan kondisi 1998 dibandingkan dengan saat ini.
Said Didu mengatakan ada sejumlah perbedaan kondisi 1998 dibandingkan dengan saat ini.
Salah satunya, ketersediaan bahan pokok yang terjaga di era pemerintahan Prabowo.
Dia juga menyebut sekitar 80 persen utang pemerintah pada 1998 adalah ke luar negeri.
Jadi, pembayarannya membutuhkan banyak dolar.
“Utang sekarang, sekitar 80 persen dalam negeri. Jadi, tidak membutuhkan banyak dolar untuk membayar,” katanya, dikutip dari akun X pribadinya, Selasa (4/8).
Said Didu mengatakan pada 1998, mayoritas rakyat tergiring menjadi anti terhadap Presiden Soeharto.
Dia mengungkapkan pihak yang tidak suka Prabowo saat ini, jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang membenci Gibran.
“Tidak rela terjadi gejolak, dan Gibran yang naik (menjadi Presiden). Kecuali, Geng SOP (Solo, Oligarki) yang memang ingin Gibran segera jadi Presiden,” ujarnya.
Said Didu meyakini isu kerusuhan yang akan terjadi seperti 1998 hanya mimpi dan keinginan para perampok negara untuk mematikan perbaikan bangsa.
Dia mengataakan untuk mengendalikan upaya Geng SOP yang mengganggu rezim Prabowo Subianto, harus dilakukan pembersihan kabinet.
“Presiden Prabowo minimal harus melakukan penggantian pemimpin lembaga penegakan hukum dan membersihkan kabinet dari unsur Geng Solo,” ucapnya.