DEMOCRAZY.ID – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (UNAIR) resmi merilis pernyataan sikap dan petisi daring yang mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini diambil menyusul berbagai polemik, isu kesehatan, hingga dugaan korupsi yang menyelimuti program nasional tersebut.
Melalui unggahan di akun resmi mereka, BEM UNAIR mengajak seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk menyadari dampak buruk dan masalah sistemik yang muncul sejak program ini digulirkan.
Dalam takarir (caption) unggahannya, BEM UNAIR menggarisbawahi beberapa poin krusial yang menjadi alasan utama penolakan mereka terhadap program MBG:
1) Kasus Hukum di Badan Gizi Nasional: Penangkapan mantan Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, serta penggeledahan kantor lembaga tersebut dinilai menjadi indikasi kuat adanya masalah transparansi yang serius di tingkat pusat.
2) Insiden Keracunan Siswa: Puluhan ribu siswa dilaporkan mengalami keracunan akibat makanan yang dibagikan. BEM UNAIR menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai hanya melihat insiden kesehatan ini sebagai “data statistik” semata tanpa adanya evaluasi keselamatan yang ketat.
3) Penghamburan Anggaran: Program ini terindikasi memicu pemborosan anggaran negara untuk pengadaan barang yang tidak mendesak, sehingga berpotensi menjadi klaster baru praktik korupsi.
“Alih-alih menjadi berkat, program ini menjadi beban, menguras anggaran yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak dan memiliki dampak lebih langsung pada kesejahteraan rakyat,” tulis BEM UNAIR dalam pernyataannya.
👇👇
Visual utama yang dibagikan dalam unggahan tersebut menampilkan selebaran digital (e-poster) berlatar biru khas Kabinet Cerita Loka dengan tajuk utama “Petisi Hentikan Program Makan Bergizi Gratis!”.
Di bawah judul, terdapat ajakan tertulis: “Kami Mengajak Masyarakat Indonesia Menandatangani Petisi Daring untuk Diberhentikannya Program Problematik Ini”.
Poster ini juga menampilkan foto Presiden Prabowo Subianto di podium dengan tanda silang besar di sisi gambar menu makanan, menegaskan simbol penolakan total terhadap program tersebut.
Ada pula alamat link dipasang lewat foto yakni https://c.org/sSYdvBfH4b.
Unggahan ini memicu gelombang interaksi yang masif dengan meraih lebih dari 139 ribu suka dan ribuan komentar dalam waktu singkat.
Netizen pun terbelah menjadi pihak yang mendukung petisi dan pihak yang menilai program ini dipertahankan.
Banyak warganet yang setuju bahwa anggaran MBG lebih baik dialihkan untuk sektor lain seperti pendidikan atau stabilisasi harga pangan.
Beberapa orang tua murid juga mengeluhkan kualitas menu yang tidak ramah anak.
“MBG terbukti ga efisien, Mending buat gedein subsidi pendidikan, semakin orang nya terdidik, lapangan kerja baru pasti bermunculan,” tulis seorang warganet di kolom komentar.
“Pak, saya bosen juga tiap hari nyuci sampah MBG karena anak saya ga suka makanannya, olahan menu ga disesuaikan dengan anak TK, yang bener aja bocil dikasih tahu cabe garam,” balas lainnya.
“Semenjak program ini ada bahan pokok semua naik ayam, beras, minyak… sebagian orang dapat kerja sebagian yg lain harus ngencengi ikat pinggang untuk mengurangi jatah makan untuk keluarga dan anak2 😢” curhat warganet lainnya.
“SAYA SETUJU… STOP MBG… LEBIH BAIK JALAN KAN TERUS DANA BOS SEKOLAH NEGERI DAN BEASISWA SEKOLAH SWASTA,” tulis netizen lainnya.
Hingga saat ini, petisi dan gelombang kritik dari kalangan mahasiswa ini terus bergulir di media sosial, memicu perdebatan hangat mengenai masa depan arah kebijakan pemenuhan gizi nasional di era pemerintahan saat ini.
Sumber: Fajar