DEMOCRAZY.ID – Pendakwah Sugi Nur Raharja alias Gus Nur buka suara terkait desakan warganet yang menagih janjinya untuk mencium kaki Presiden ke-7 RI Joko Widodo usai Jokowi menunjukkan ijazah di persidangan.
Dalam video terbarunya, Gus Nur mengaku ponsel adminnya dibanjiri pesan dari pendukung Jokowi atau yang ia sebut termul.
“Si termul-termul ini euforia nih kayaknya dengan Jokowi menunjukkan ijazah kemarin. HP-nya admin itu enggak istirahat. Mana janjimu? Mana janjimu Ustaz? Katanya mau cium kakinya Jokowi. Ayo,” ujar Gus Nur menirukan pesan tersebut, dikutip dari siniar akun Youtube-nya, Sabtu (7/11/2026).
Gus Nur menegaskan dirinya bukan pengecut dan tidak akan lari dari komitmen.
“Saya bukan pengecut. Saya bukan orang yang tidak komitmen. Saya bukan orang yang makan duit-duit haram yang pengecut,” tegasnya.
Menurut Gus Nur, sekadar menunjukkan ijazah di ruang sidang tidak serta merta membuktikan keasliannya.
“Orang menunjukkan ijazah asli itu apa relevansinya? Terus apakah orang menunjukkan ijazah asli terus itu ijazahnya asli begitu? Allahu Akbar. Kasihan bangsaku ini dipenuhi manusia-manusia termul seperti itu,” katanya.
Ia menilai jika Jokowi memang berniat menunjukkan ijazah asli, seharusnya sudah dilakukan sejak sidang dirinya di Solo, bukan sekarang.
“Kalau niat mau menunjukkan ijazah aslinya ya poin pertama dulu waktu sidang saya sudah ditunjukkan,” ucapnya.
Gus Nur juga menyoroti jalannya sidang yang menurutnya penuh kebohongan.
Ia menyebut ada sejumlah ketidaksesuaian mulai dari soal Kasmujo, tanggal KKN, hingga pembimbing skripsi.
“Bahkan yang lebih konyol ini stand up komedi terlucu sepanjang abad. Ketika pengacara menunjukkan buku alumni UGM, keterangan Jokowi sama yang ada di buku ini kan enggak sama. Apa kata Jokowi? Oh, mungkin itu salah cetak. Yang nyetak yang salah,” ujarnya.
Ia juga menyoroti sikap Jokowi yang menolak ijazahnya diuji ulang di laboratorium forensik.
“Bagaimana di ruang sidang ditawari, diminta uji Labfor? Enggak mau. Keberatan katanya pernah diuji Labfor Polri. Ini kan sidang mencari fakta persidangan, mencari kebenaran tanpa batas. Enggak ada keberatan-keberatan tuh,” katanya.
Gus Nur mengatakan, mencium kaki Jokowi adalah hal kecil jika memang ijazah itu terbukti asli melalui mekanisme persidangan yang transparan dan fair.
“Mencium kaki itu gampang. Saya enggak akan lari. Buktikan kalau itu asli. Hakimnya bukan termul. Diuji dengan Labfor ini, Labfor ini di persidangan, dites clear usia tinta, usia kertas, usia font. Oke, clear, transparan sidangnya transparan,” ujarnya.
Ia pun menantang Jokowi untuk melakukan mubahalah jika video tersebut sampai kepadanya.
“Atau gini aja deh. Enggak usah banyak teori ya kalau video ini sampai ke Jokowi. Yuk mubahalah yuk sama saya yuk. Empat mata aja lah. Aku enggak percaya pengadilan, enggak percaya hakimnya, enggak percaya jaksanya. Yuk mubahalah yuk. Pak Jokowi dengan saya berdua yuk. Kalau asli ijazahmu, aku yang dilaknat. Kalau palsu ijazahmu, kamu yang dilaknat,” pungkas Gus Nur.
Sebagai tambahan informasi, Gus Nur pernah dihukum dalam perkara ujaran kebencian dan berita bohong terkait ijazah Jokowi.
Pada April 2023, ia divonis enam tahun oleh Pengadilan Negeri Surakarta namun akhirnya dijatuhi hukuman empat tahun penjara setelah melalui proses banding.
Gus Nur kemudian bebas lebih cepat setelah memperoleh Amnesti dari Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2025.
Mengenai kejadian masa lalu semasa Jokowi masih menjabat presiden, Gus Nur mengaku kritik keras yang disampaikannya ketika itu membuat dirinya harus berhadapan dengan sejumlah proses hukum di berbagai daerah, mulai dari Malang, Palu, Surabaya, Solo hingga Jakarta.
“Selama 10 tahun dua periode kepemimpinan Pak Jokowi, saya merasa sangat dizalimi dan dikriminalisasi. Waktu itu saya merasa termasuk yang paling keras menyuarakan kritik,” kata Gus Nur dalam tayangan YouTube Gus Nur 13 Official.
Menurut Gus Nur, persoalan yang dihadapinya tidak hanya berkaitan dengan proses hukum.
Ia juga mengaku mengalami tekanan teknis maupun psikis, termasuk ketika sejumlah agenda safari dakwahnya di berbagai wilayah harus dibatalkan atau diboikot.
Beberapa wilayah yang disebutnya terdampak antara lain Padang, Yogyakarta, Hongkong hingga Australia.
Rencana sosial yang hendak dijalankannya juga disebut ikut terkena imbas.
Gus Nur mengaku pernah menghadapi kendala ketika hendak membeli lahan untuk membangun fasilitas keagamaan di Malang dan Besuki, Jawa Timur.
Rencana tersebut disebut batal setelah muncul stigma negatif terhadap dirinya.
“Rencana membangun pesantren tahfidz Quran gratis direcokin dan dibatalkan. Bahkan pesantren yang kami kelola di Palu terpaksa direlakan untuk dikelola pihak lain karena proses hukum,” ungkap dia.
Persoalan yang kembali disoroti Gus Nur adalah kasus hukum terkait dugaan ijazah yang pernah membuatnya mendekam di balik jeruji besi.
Gus Nur menegaskan bahwa selama persidangan hingga dirinya menyelesaikan masa tahanan, bukti fisik berupa ijazah yang diklaim asli milik Jokowi dan menjadi persoalan dalam perkara tersebut tidak pernah dihadirkan di persidangan.