DEMOCRAZY.ID – Kesaksian Jokowi di Pengadilan Negeri Jakarta Timur dalam perkara dugaan pencemaran nama baik terkait tudingan ijazah palsu menyedot perhatian publik.
Presiden ke-7 RI itu hadir bukan lagi sebagai kepala negara, melainkan sebagai warga negara yang diminta memberikan keterangan di hadapan majelis hakim.
Jokowi menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa.
Di ruang sidang, ia memberikan penjelasan mengenai riwayat pendidikannya, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Jokowi bahkan memperlihatkan dokumen ijazah dari jenjang SD hingga sarjana (S1) kepada majelis hakim dan pengunjung sidang.
Kesaksiannya menjadi bagian penting dari perkara yang selama ini diwarnai polemik mengenai keaslian ijazah dan dokumen akademiknya.
Di tengah persidangan tersebut, kesaksian seorang teman satu angkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM kembali mengemuka.
Frono Jiwo, yang masuk kuliah bersama Jokowi pada 1980 dan lulus pada 1985, memberikan penjelasan mengenai ijazah, skripsi, hingga kehidupan mantan presiden itu semasa mahasiswa.
Frono mengaku prihatin dengan tudingan yang mempersoalkan keaslian ijazah dan skripsi Jokowi.
Ia menegaskan, dirinya mengenal langsung proses perkuliahan Jokowi karena keduanya merupakan teman satu angkatan.
“Kami seangkatan dengan Pak Jokowi, masuk tahun 1980,” kata Frono, dikutip dari situs resmi UGM, Jumat (6/11/2026).
Salah satu hal yang disoroti Frono adalah bentuk ijazah sarjana yang diterbitkan UGM.
Menurut dia, ijazah miliknya memiliki format yang sama dengan ijazah Jokowi, mulai dari jenis huruf hingga tanda tangan pejabat kampus.
Ia menyebut ijazah tersebut ditandatangani Rektor Prof. T. Jacob dan Dekan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.
Perbedaan di antara kedua dokumen itu hanya terletak pada nomor kelulusan.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujarnya.
Frono juga menjelaskan proses penyusunan skripsi mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM pada periode tersebut.
Menurut dia, para mahasiswa masih mengandalkan mesin ketik untuk menyelesaikan karya ilmiah, meskipun komputer sudah mulai tersedia.
Sementara itu, proses pencetakan sampul, lembar pengesahan, hingga penjilidan umumnya diserahkan kepada percetakan.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa. Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” kata Frono.
Kesaksian Frono tidak hanya berkaitan dengan dokumen akademik.
Ia juga mengenang karakter Jokowi selama menjadi mahasiswa.
Menurut dia, Jokowi termasuk pribadi pendiam, tetapi memiliki selera humor yang kuat ketika berkumpul bersama teman-temannya.
“Pak Jokowi orangnya pendiam, tapi kalau ngobrol selalu kocak, apa yang jadi pembicaraan selalu mengundang tawa,” kenangnya.
Di luar aktivitas perkuliahan, Frono mengungkapkan Jokowi memiliki kegemaran mendaki gunung.
Sejumlah gunung di Pulau Jawa dan Sumatera pernah didaki Jokowi.
Namun, Frono mengaku tidak banyak mengikuti kegiatan tersebut bersama Jokowi.
“Pak Jokowi sering naik gunung, tapi saya jarang dan seingat saya, saya tidak pernah bareng naik gunung sama Pak Jokowi,” paparnya.
Kedekatan keduanya berlanjut setelah menyelesaikan pendidikan di UGM.
Frono mengatakan, ia dan Jokowi sempat melamar pekerjaan di perusahaan yang sama, PT Kertas Kraft Aceh (Persero), bersama almarhum Hari Mulyono, adik ipar Jokowi.
Ketiganya kemudian bekerja di perusahaan tersebut.
Namun, Jokowi tidak bertahan lama.
Menurut Frono, setelah menikah dengan Iriana, Jokowi memutuskan mengundurkan diri karena sang istri diduga tidak betah tinggal di lingkungan tempat kerja yang berada di tengah hutan pinus di kawasan Aceh Tengah.
“Kami bertiga, Pak Jokowi, saya dan almarhum Hari Mulyono (adik ipar Jokowi) bareng-bareng masuk kerja. Setelah Pak Jokowi menikah, Ibu Iriana kayaknya tidak betah karena basecamp berada di tengah hutan pinus di Aceh Tengah, Pak Jokowi resign dulu, tinggal saya dan almarhum Hari Mulyono yang masih bertahan,” tuturnya.