Eks Relawan Jokowi Balik Arah: Gibran Harus Tahu Diri dan Segera Mundur dari Wapres!

DEMOCRAZY.ID — Pukulan telak kembali menghantam benteng pertahanan dinasti Solo.

Mantan Wakil Ketua Umum Relawan Pro Jokowi (Projo) periode 2014–2019, Budianto Tarigan, secara terbuka mendesak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk segera meletakkan jabatannya dan mundur secara ksatria menyusul skandal dokumen pendidikan yang telah dibongkar oleh Mahkamah Konstitusi.

Tidak hanya menyerang Gibran, Budianto juga menuntut kesadaran moral dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo beserta Iriana Jokowi untuk turun tangan menasihati putranya agar tidak terus-menerus membebani negara dengan polemik ijazah palsu.

Mantan Pendukung Bongkar Borok: “Kalau Saya Jadi Gibran, Saya Pilih Mundur!”

Budianto yang dulunya berada di garda terdepan barisan relawan pendukung Jokowi, kini berbalik melancarkan kritik tajam berlandaskan etika dan standar moral pejabat negara.

Dalam wawancaranya di kanal YouTube Forum Keadilan TV, Budianto menegaskan bahwa jabatan setingkat Wakil Presiden Republik Indonesia bukan sekadar soal lolos secara formal di atas kertas, melainkan menyangkut kehormatan, integritas, dan martabat bangsa.

“Kalau saya berada di posisi Gibran, saya akan memilih mundur. Jabatan tinggi menuntut tanggung jawab moral dan etika yang tinggi pula di hadapan rakyat,” tegas Budianto Tarigan.

Ia mengingatkan bahwa cacat administrasi pendidikan yang menjerat Gibran telah merusak kredibilitas Istana.

Memaksakan diri bertahan di kursi kekuasaan di tengah gelombang ketidakpercayaan publik hanya akan mempermalukan diri sendiri dan institusi negara.

Ancaman Hilangnya Marwah Wapres: Mau Sampai Kapan Dihina Rakyat?

Budianto melukiskan pemandangan memprihatinkan apabila seorang Wakil Presiden Republik Indonesia harus terus menerus hidup di bawah bayang-bayang cemoohan publik setiap kali turun ke lapangan.

Ketika berinteraksi langsung dengan rakyat, beban psikologis dan sanksi sosial dari masyarakat yang mengetahui skandal ijazah bodong tersebut dipastikan akan meruntuhkan wibawa jabatan itu sendiri.

Bagaimana mungkin seorang pejabat tinggi negara bisa menegakkan kepala di hadapan rakyatnya ketika integritas dasarnya sebagai seorang pelajar saja dipertanyakan dan terbukti tidak valid di muka hukum?

“Bagaimana kehormatan seorang wakil presiden dapat dipertahankan apabila isu dokumen pendidikan ini terus menjadi bahan perbincangan dan cibiran publik?” ungkap Budianto mempertanyakan.

Pengkhianatan Terhadap Nurani: Saatnya Trah Solo Sadar Diri!

Pernyataan keras dari seorang mantan petinggi Projo ini menjadi bukti nyata bahwa lingkaran terdekat rezim lama mulai tercerahkan dan muak dengan drama kebohongan yang dipertontonkan dinasti Solo.

Ketika pendukung setia saja sudah mendesak agar Gibran mundur demi menyelamatkan sisa-sisa harga diri, maka tidak ada lagi alasan bagi faksi Istana untuk bersembunyi di balik tameng kekuasaan.

Pilihan kini berada di tangan Gibran dan sang ayah: Mundur terhormat demi menjaga sisa marwah bangsa, atau tetap bertahan dengan muka tembok hingga diusir secara hina melalui pintu pemakzulan Parlemen!

Artikel terkait lainnya