NGERI! Media Eropa Gambarkan Dahsyatnya Letusan Krakatau: Tahun 1883 Bikin Dunia Dingin, 2018 Tsunami

DEMOCRAZY.IDMedia Eropa menggambarkan kengerian letusan Gunung Anak Krakatau di masa lalu dan di era modern.

Terbaru, erupsi intensif Gunung Anak Krakatau yang berlangsung selama 25 jam kini mulai mereda meski dampaknya masih melumpuhkan sektor penerbangan dan pendidikan.

Otoritas penerbangan mempertahankan penutupan delapan bandara udara di wilayah Sumatra dan Jawa hingga Senin sore.

Aktivitas vulkanik ini tidak hanya membatalkan ribuan jadwal penerbangan nasional, tetapi juga memaksa ribuan sekolah mengalihkan kegiatan belajar ke sistem daring.

Kebijakan darurat ini diambil demi mengantisipasi bahaya sebaran abu vulkanik di udara.

“Indonesia memiliki lebih dari 120 gunung berapi aktif dan sering mengalami letusan karena lokasinya di sepanjang “Cincin Api” Pasifik,” tulis Euronews.

Dampak letusan skala besar ini dirasakan langsung oleh ratusan ribu calon penumpang di wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, hingga Lampung.

Penghentian operasional fasilitas udara menjadi langkah krusial guna menghindari risiko fatal pada mesin pesawat.

Laporan Badan Geologi menunjukkan letusan utama yang memuntahkan lava pijar dan dentuman sejauh 700 kilometer telah berhenti sejak Minggu.

Meski demikian, aktivitas seismik lokal serta hembusan abu hitam tebal masih terekam secara berkala.

Pemantauan visual terhadap kawah gunung saat ini terkendala oleh kondisi cuaca buruk di sekitar Selat Sunda.

Petugas teknis mengandalkan instrumen pendeteksi untuk mengamati pergerakan magma di bawah permukaan secara realtime.

Laporan dari Euronews, pengujian AirNav Indonesia mengonfirmasi keberadaan sebaran abu vulkanik pada ruang udara sekitar Jakarta dan kota-kota sekitarnya.

Penghentian sementara operasional delapan bandara langsung diberlakukan sampai pukul 18.00 WIB.

Empat di antaranya merupakan bandara komersial utama di bawah naungan InJourney Airports, termasuk Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, serta Radin Inten.

Gangguan jadwal ini berdampak masif pada rute penerbangan domestik maupun internasional.

Pihak InJourney Airports mencatat sebanyak 2.300 penerbangan terpaksa dibatalkan atau ditunda akibat bencana alam ini.

Kebijakan pembekuan penerbangan sementara tersebut memengaruhi perjalanan setidaknya 268.539 penumpang.

Pemerintah turut mengizinkan seluruh sekolah di zona terdampak untuk menghentikan aktivitas tatap muka sementara waktu.

Langkah belajar dari rumah ini diterapkan di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung.

Instruksi pembelajaran jarak jauh bertujuan meminimalkan risiko gangguan pernapasan pada anak-anak akibat paparan hujan abu.

Pemerintah mengimbau warga untuk terus menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.

Otoritas geologi Indonesia mengingatkan masyarakat bahwa ancaman bahaya dari kawah Anak Krakatau belum sepenuhnya berakhir.

Potensi erupsi lanjutan diprediksi masih tinggi dalam beberapa hari mendatang.

Ancaman bahaya utama mencakup lontaran batu pijar, hujan abu lebat, hingga potensi aliran lava baru.

Bahaya tersebut dapat terjadi sewaktu-waktu jika aktivitas erupsi menerus kembali meningkat.

Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati area kawah dalam radius aman yang telah ditentukan.

Seluruh pemangku kepentingan diminta tetap siaga mengantisipasi perubahan status gunung secara mendadak.

Masih dari Euronews, Gunung Anak Krakatau merupakan pulau vulkanik aktif yang terletak di perairan Selat Sunda.

Gunung ini tumbuh dari sisa-sisa letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883 yang sempat memicu perubahan iklim global hingga bumi menjadi dingin.

“Namanya berarti “anak Krakatau,” dan gunung berapi ini merupakan keturunan dari Krakatau yang terkenal, yang letusannya yang dahsyat pada tahun 1883 memicu periode pendinginan global,” tulis media itu lagi.

Aktivitas vulkanik gunung ini pernah memicu gelombang tsunami destruktif pada akhir tahun 2018 lalu.

Bencana historis tersebut merenggut sedikitnya 430 korban jiwa di pesisir Sumatra dan Jawa.

Para peneliti mengidentifikasi longsoran material bawah laut dari lereng barat daya gunung sebagai pemicu utama tsunami tersebut.

Runtuhan skala besar itu menggeser volume air laut dalam jumlah masif secara mendadak.

Indonesia sendiri memiliki lebih dari 120 gunung berapi aktif yang tersebar di berbagai pulau.

Kondisi geografis ini terjadi karena wilayah Nusantara berada tepat di atas jalur Lingkaran Cincin Pasifik.

Kawasan sabuk gempa bumi ini menjadi pusat pertemuan lempeng tektonik dunia yang sangat aktif.

Alhasil, dinamika geologi seperti gempa dan letusan gunung berapi menjadi fenomena alam yang sering terjadi.

Artikel terkait lainnya