Sindiran Loyalis Anies Saat Abu Anak Krakatau Sampai Jakarta: Makin Paham Kenapa Angin Tak Punya KTP!

DEMOCRAZY.ID – Peneliti kebijakan publik Tatak Ujiyati menyoroti abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Banten yang mencapai Jakarta.

Ia mengaitkan fenomena tersebut dengan pernyataan bahwa angin tidak memiliki KTP.

“Yang meletus gunung Krakatau di Banten, abunya sampai di Jakarta. Makin paham dong kenapa dibilang angin tidak punya KTP,” kata Tatak dikutip dari unggahannya di X, Senin (7/9/2026).

Menurut Loyalis Anies ini, angin bergerak tanpa dapat dikendalikan.

“Asal pergi saja ke mana dia suka,” ujarnya.

Pernyataan soal angin tak punya KTP sebelumnya dipopulerkan Anies Baswedan.

Saat itu, Anies menggunakan analogi tersebut untuk menjelaskan bahwa angin dan polusi udara tidak mengenal batas administratif.

Pernyataan itu disampaikan Anies dalam debat calon presiden Pilpres 2024 pada 12 Desember 2023.

Saat itu, Anies membahas persoalan polusi udara di Jakarta yang menurutnya dapat berpindah mengikuti arah angin dari luar wilayah Jakarta.

Karena itu, tingkat polusi udara di Jakarta tidak selalu sama setiap hari.

Anies soal Abu Gunung Anak Krakatau

Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi salah satu pihak yang merasakan dampak sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).

Rumahnya di Jakarta Selatan turut terdampak abu vulkanik.

“Abu vulkanik Anak Krakatau sudah sampai di rumah kami juga di Jaksel. Waspadai hal-hal berikut dan mari saling jaga ya,” kata Anies, Minggu (6/9/2026).

Dalam unggahan di media sosial, Anies memperlihatkan mobilnya yang dipenuhi lapisan tipis debu vulkanik.

“Pagi ini sebetulnya kami akan berangkat CFD, tapi ternyata banyak abu vulkanik, termasuk di rumah kita. Nih, kita lihat nih, ini mobil penuh dengan abu vulkanik. Nah, ini kalau dilihat, kita kepengin aman sampai bisa nulis,” kata Anies.

Dalam kondisi tersebut, Anies mengimbau warga, terutama yang berada di wilayah terdampak, sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.

“Dalam kondisi seperti ini ada beberapa pesan. Pertama, sebisa mungkin tetap di dalam rumah, apalagi untuk kelompok rentan. Seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, atau yang punya gangguan pernapasan,” kata Anies.

“Kedua, kalau terpaksa ke luar, maka pakai masker yang proper. Idealnya jenis N95 atau KN95. Bukan sekadar masker kain tipis, tapi tidak perlu panik ya.”

“Yang ketiga, abu vulkanik ini mengandung silika, salah satu bahan dasar kaca. Jadi bisa menggores kulit, kaca, dan yang paling berisiko itu untuk paru-paru. Kalau terhirup terus-menerus, jadi hati-hati,” tambahnya.

Pesan keempat adalah melindungi mata.

Anies mengimbau warga menggunakan kacamata.

Bagi pengguna softlens, ia menyarankan untuk melepasnya.

“Dan kalau kelilipan abu, jangan digosok. Cukup dibilas dengan air bersih,” imbuhnya.

Pesan kelima, warga diminta menutup pintu, jendela, dan tandon penampungan air agar abu tidak masuk ke dalam rumah atau tercampur dengan air.

“Keenam, saat membersihkan mobil, kaca, halaman, motor, atau perabot lain yang kena abu, siram dulu dengan air yang banyak. Jangan sampai digosok pada saat masih kering, karena nanti akan bisa tergores,” jelasnya.

Anies juga mengingatkan warga yang berkendara agar tidak menggunakan wiper pada kaca mobil yang terkena abu vulkanik.

Partikel debu vulkanik dapat menggores permukaan kaca.

Jika terpaksa harus berkendara, ia menyarankan warga melaju dengan kecepatan rendah, terutama apabila jarak pandang berkurang dan kondisi jalan licin.

“ Kedelapan, selalu update informasi. Cek tetangga atau orang di sekitar kita yang mungkin butuh bantuan, terutama yang rentan. Yuk, kita saling jaga,” tandasnya.

Artikel terkait lainnya