DEMOCRAZY.ID — Sosiolog Bencana dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, menilai pernyataan kontroversial Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, mengenai potensi percepatan pemilu sebelum 2029 merupakan respons atas tanda-tanda “bencana kepemimpinan” di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Sulfikar berpandangan bahwa kondisi riil yang terjadi di Indonesia belakangan ini sudah melampaui batas sekadar kegagalan kebijakan biasa, melainkan telah masuk pada kategori krisis kepemimpinan yang sistemik.
“Budi Arie itu hanya merespons apa yang terjadi dari kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Sulfikar, dikutip dari kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Selasa (1/9/2026).
Menurut Guru Besar Sosiologi Bencana tersebut, terdapat perbedaan mendasar antara istilah kegagalan dan bencana.
Dalam situasi kegagalan, para pengambil kebijakan umumnya akan merespons secara rasional untuk melakukan perbaikan.
Sebaliknya, kondisi saat ini dinilainya sudah memicu kepanikan di berbagai lini.
“Kenapa bencana? Ketika terjadi bencana, orang-orang akan panik. Kalau kegagalan, orang akan merespons dan memperbaikinya,” jelasnya.
Sulfikar lantas menganalogikan situasi politik nasional saat ini dengan tanda-tanda alam sebelum sebuah bencana besar terjadi, seperti aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang akan meletus.
“Gunung Merapi yang akan meletus, gejala batuk-batuk dahulu. Orang-orang akan panik dan melarikan diri,” tuturnya.
Dari sudut pandang analitisnya, Sulfikar menduga bahwa Budi Arie bersama Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) beserta kelompok lingkarannya sudah membaca dan melihat gejala-gejala awal dari bencana kepemimpinan tersebut, sehingga mereka mulai mengambil jarak atau merumuskan langkah antisipasi politik ke depan.
“Budi Arie dan Jokowi sudah melihat tanda-tanda bencana kepemimpinan Prabowo. Mereka harus mengambil sikap. Kalau bersiap, mau siap-siap apa?” pungkasnya.
[FULL VIDEO]