DEMOCRAZY.ID — Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 memang masih menyisakan waktu beberapa tahun lagi, namun tensi politik Tanah Air menyongsong hajatan lima tahunan tersebut mulai terasa riak-riaknya.
Berbagai analisis dan wacana mengenai figur yang pantas maju di panggung politik paling akbar itu kini mulai bermunculan.
Salah satu pasangan yang mulai digadang-gadang sebagai potensi duet maut pada Pilpres 2029 mendatang adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang disandingkan dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Aspirasi untuk menyandingkan kedua tokoh ini dalam satu paket kontestasi bahkan telah disampaikan secara langsung kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Gagasan tersebut dilontarkan oleh praktisi hukum sekaligus tokoh publik, Farhat Abbas, dalam sebuah acara konsolidasi yang turut dihadiri oleh Jokowi serta Ketua Umum relawan Pro Jokowi (Projo), Budi Arie Setiadi. Potongan video pernyataan tersebut belakangan viral di berbagai platform media sosial.
“Perasaan saya Mas Gibran dan Kang Dedi Mulyadi,” ujar Farhat Abbas di hadapan Jokowi dan Budi Arie, Sabtu (29/8/2026).
👇👇
Konsolidasi
Farhat Abas usul Gibran berpasangan dengan Dedi Mulyadi di 2029.Senen 24 Agustus 2026. pic.twitter.com/XyZTjzvx5r
Baca Juga— Edy Bayo Regar (@regar_op0sisi) August 27, 2026
Kemunculan wacana duet tersebut tak lepas dari dinamika politik belakangan ini.
Dedi Mulyadi sempat diisukan semakin dekat dengan lingkaran keluarga Jokowi, bahkan diterpa kabar burung yang menyebut dirinya akan segera hengkang dari Partai Gerindra dan bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Isu tersebut kian santer dikaitkan ketika Dedi Mulyadi melakukan kunjungan kerja meninjau masyarakat terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kehadiran Dedi yang tiba di lokasi bencana jauh lebih awal dibanding kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto sempat di-framing oleh sebagian pihak sebagai bagian dari manuver politik.
Kendati demikian, Dedi Mulyadi secara tegas membantah seluruh rumor kepindahan partai maupun spekulasi liar tersebut.
Ia memastikan bahwa dirinya hingga saat ini masih memegang posisi strategis di dalam struktur kepengurusan Partai Gerindra.
“Iya itu tiba-tiba (isu) dari mana? Sampai hari ini saya adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Gerindra. Itu (isu) bukan tidak benar, tapi sudah bohong alias hoax,” tandas Dedi.