DEMOCRAZY.ID — Nama Melva Pardede mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial setelah aksinya saat diwawancara oleh salah satu stasiun televisi nasional viral.
Dalam video tersebut, perempuan paruh baya yang mengenakan atribut ojek daring (online) melontarkan pernyataan bernada tudingan kepada massa aksi.
Peristiwa itu bermula ketika Melva, yang berada di tengah kerumunan orang beratribut serupa, mengkritik keras sikap Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) yang memilih langsung pulang usai menyampaikan aspirasinya.
“Kami warga Jakarta merasa diberakin oleh kalian. Kalian main pulang saja setelah dari dalam. Kalian sudah cair kalian pulang,” tuding Melva dalam wawancara tersebut.
Ternyata ibu Maria Melva Rossa Pardede bukan ojol ….
Melainkan aktifis yang ingin suasana jadi keosss…
Kata botok pati pic.twitter.com/loMpBUsvwL— GAMEOVERPOST (@Tangankanancuan) August 28, 2026
Sontak, video wawancara itu menuai polemik dan memantik reaksi keras warganet.
Banyak pihak di media sosial kemudian membongkar latar belakang Melva, yang disebut-sebut bukan pengemudi ojol sungguhan, melainkan seorang aktivis yang kerap berpindah-pindah isu aksi demonstrasi serta sempat dikaitkan dengan lingkaran politik tertentu.
Lah kocag, harusnya berapa lama demonya bu?
Perwakilan ojol, Melva Pardede, mengaku kecewa pada massa AMPB yg dipimpin Botok. Mereka menilai massa AMPB meninggalkan Jakarta terlalu cepat padahal mereka sudah dibantu logistik pic.twitter.com/baOxxBWLru
— ً (@AhlulQohwah) August 27, 2026
Di tengah ramainya perbincangan tersebut, beredar pula sejumlah foto di media sosial yang menampilkan Melva mengenakan atribut PDI Perjuangan, hingga memunculkan narasi bahwa dirinya merupakan kader partai berlambang banteng moncong putih itu.
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli, langsung memberikan bantahan keras.
Ia memastikan bahwa informasi yang mengaitkan Melva Pardede sebagai kader resmi PDI Perjuangan adalah hoaks.
NYONYA MELVA MARIA ROSA PARDEDE …
🤔 pic.twitter.com/Zc6TJ7j9PfBaca Juga— ROMEO (@RomeoWalker19) August 28, 2026
Guntur membeberkan sejumlah bukti untuk mematahkan klaim tersebut, termasuk menyoroti foto Melva beratribut partai yang dinilainya sebagai hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI).
“Simak penjelasan berikut: Foto itu adalah hoax, hasil kreasi AI. Kemeja PDI Perjuangan tidak pernah pakai logo bertuliskan PDIP, tapi PDI Perjuangan. Hasil penelusuran, foto berpakaian merah dia tidak ada di Google Lens. Tidak benar dia kader PDI Perjuangan, tidak punya KTA PDI Perjuangan dan tidak terdaftar sebagai kader resmi PDI Perjuangan,” tegas Guntur.
Selain itu, Guntur juga menepis kabar yang menyebut Melva sebagai simpatisan atau bagian dari tim sukses pasangan Pramono Anung–Rano Karno pada Pilkada Jakarta.
Aiman klarifikasi terkait wawancara melva pardede pada demo kemarin! https://t.co/HNj3jjUtgq pic.twitter.com/ELR1GtK3b5
— pingwin (@adttopj) August 29, 2026
Ia menyebut rekam digital justru menunjukkan Melva pernah melayangkan kritik keras terhadap Pramono Anung.
“Tidak benar dia relawan resmi Pram-Doel, kalau simpatisan bisa jadi iya. Bahkan dia pernah mengkritik keras Pramono Anung. Tidak benar dia My Esti. My Esti bukan orang Batak, beliau lebih glowing dan smart dari Melva Pardede,” ucapnya.
Ia pun menyimpulkan bahwa kehadiran Melva dalam berbagai kesempatan lebih dipicu oleh kebiasaannya mengikuti berbagai aksi demonstrasi dengan mengenakan atribut yang berubah-ubah demi sorotan kamera.
“Melva Pardede hanyalah orang yang sering ikut demo di mana-mana, kadang mengaku diri sebagai perwakilan komunitas ojol dan lain-lain untuk sering muncul di depan kamera,” pungkasnya.
Polisi sebaiknya memeriksa Melva Pardede terkait dugaan provokasi terhadap massa ojol.
Klo memang ada pihak yg menyuruh atau mengarahkan, publik tentu berhak tahu siapa di baliknya. Jangan sampai aksi yg awalnya menyampaikan aspirasi justru berubah menjadi provokasi & kericuhan. pic.twitter.com/cEiYd0jliR
— ♏💤🇯🇵🅰️🇱🅴❎™️✪ⓃⓀⓇⒾ🇮🇩☀️ (@tham878) August 29, 2026