Aksi Protes Mahasiswa UGM Saat HUT RI! Turunkan Bendera Jadi Setengah Tiang, Pertanyakan Makna 81 Tahun Kemerdekaan: Merdeka atau Menderita?

Signature: nanBj79+cWDMkYARFrUWiZ7kUtT7nZGOvJdl21UuUQQ59Mc28SoVcNf7p+q47hoXVCHQniqFXDlJ8D00bs68cBt105f8rL0eagtCRU2tgPU4WhqBEdpnIdUXHFhkCg28qvYCYe3VAg/iimnTgSr0XbOt561KORTkmzbC5BnPxgLJmm1i5mnE+S1ksRMxLlAKibexqmqNFIXJLTRwq9dpoeyn2vIUsolj2UQaC9dl9PnVvhhx6QmNarS7JSOvvW7MQCHMz8lWXRv4wqezc6YNEpfPoIRwivZmeCEII/aeko+phZ8ngUcxANf1MI20e+1+E/bE6fTn1S7FnArN0fjG7uCkk0XH4W5Jgl4Br/XOgXSvT3C9JpvYDfM93fsFT0m5oFAiowQdtv6V+L9I38KoQaLJbkjsTPOBPB2AHpcwNZgWehX2WjtBrsFMEkjfbVHdYi4ePZW9NkAMEO7kuKI8WcewwFzQt20/rS/4PP6I6wxLIpmLIMLYpSzt8Z+cTJFGvY74AdrVjAD0wtxnNXhSLJLi4Lu6T+O1sPKqXwFmc289KtUmeIYBye4UJgExgxQuzyYURnSgW+GNlDY3zrgfD4vvKzizNTksp8YZPwuL1aZiAr8pH2T72MwzK88c28siHZq86M+AufabRb+3BTBbd00UL9F2iwsxUpS0khBCmNMKfXXEy6PpffBXFWriZBOnRY0Vm8p+B5SVsCCHvkqYs9Mhcm/a0hjGCF8M3nZI4qIv5Xi37/Tt7/G/RpYEorlc9B8sIaAOYOV5OwhOWzioAO0Z/kTA1D8m7EduTsYGLcByBNgobw0mh/zAXhghQFo4te7RndjYwwOrrgo/cfD95I8R90NV5dX/nKipO8BoYBHP2hUP2bG5xMs9J22oRcBzd4G4hdSpAatKHmwpGwfiHy0PLM2aLazECt7A/vMyL7yiL05FiM/DvNECUFzmUOASMPMQjQ7YcAFcd6Nn/KMF5LcxO8eTRQ+1lSkD85EP9Xs=

DEMOCRAZY.ID – Aksi simbolis perlawanan digelar oleh kolektif mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama jaringan gerakan sipil di Bundaran UGM pada Senin (17/8/2026) sore.

Aksi ini digelar bertepatan dengan perayaan kemerdekaan RI sebagai bentuk unjuk rasa atas kondisi demokrasi dan kepemimpinan nasional.

Sebagai bentuk protes, massa aksi melakukan tindakan simbolis dengan menurunkan bendera Merah Putih dari posisi penuh menjadi setengah tiang di lokasi aksi.

Langkah ini diambil sebagai simbol duka cita mendalam atas apa yang mereka sebut sebagai matinya kedaulatan sipil dan merosotnya penegakan hukum di Indonesia.

Sejumlah spanduk bernada kritik tajam terhadap penguasa turut dibentangkan di lokasi.

Spanduk-spanduk tersebut di antaranya bertuliskan “81 Tahun Merdeka atau Menderita”, “Di Atas Kertas Demokrasi, di Jalanan Penuh Represif”, dan “81 Tahun Diopresi, Saatnya Sipil Berdikari”.

Ada pula karangan bunga bertuliskan “Turut Berduka Cita Atas Meninggalnya Kedaulatan Sipil”.

Massa menegaskan gerakan ini lahir dari keputusasaan rakyat atas penguasa yang dinilai acuh terhadap karut-marut negara.

“Aksi hari ini menjadi luapan, deruan keputusasaan, deruan kekecewaan. Penting selain merayakan, kita harus merefleksikan apakah Indonesia merdeka selama 81 tahun ini sudah betul-betul merdeka atau belum,” kata Akhdan Lutfi, salah satu perwakilan mahasiswa UGM, ditemui di lokasi aksi, Senin sore.

Dalam kesempatan ini, Lutfi turut membedah tata kelola negara di bawah dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ia menyoroti soal komersialisasi pendidikan, program makan bergizi gratis (MBG) yang dinilai terus memakan korban, penguasaan lahan oleh elite, hingga pengalokasian anggaran yang tidak tepat sasaran seperti proyek KDMP serta maraknya represivitas terhadap suara kritis masyarakat.

“Kita merdeka dari apa jika anggaran pendidikan dinomorduakan? Kita merdeka dari apa jika makanan bergizi yang katanya gratis dan bergizi justru membuat anak-anak kita menjadi korban? Kita merdeka dari apa ketika tanah yang menjadi sumber daya dan sumber kehidupan Indonesia justru dikeruk habis hanya untuk segelintir elit?” tegasnya.

Perwakilan mahasiswa UGM lainnya, Gabriel Jogodamai Warella, menambahkan bahwa aksi ini sengaja menghadirkan mimbar bebas lintas sektor.

Hal itu ditujukan untuk menampung akumulasi kemarahan rakyat terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai irasional.

“Ya kita harus merefleksikan ulang, kemudian mengkaji ulang juga apakah kita benar-benar merdeka selama 81 tahun atau kita ini justru menderita bukannya merdeka. Ini luapan-luapan kemarahan yang selama ini terakumulasi selama 2 tahun pemerintahan Prabowo-Gibran,” kata Gabriel.

Artikel terkait lainnya