DEMOCRAZY.ID — Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, secara terbuka menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa menyesal pernah menjadi bagian dari Tim Pemenangan Nasional Joko Widodo–Jusuf Kalla pada kontestasi Pilpres 2014 silam.
Pernyataan tersebut disampaikan Anies saat merespons pertanyaan blak-blakan dari komika Sammy Notaslimboy dalam sebuah perbincangan santai.
“Nyesel nggak pernah jadi tim sukses Jokowi?” tanya Sammy.
“Enggak sih, karena keputusan itu diambil sesuai kondisi yang ada waktu itu,” jawab Anies.
Anies menjelaskan bahwa keputusannya untuk mendukung Jokowi pada masa itu didasari oleh gelombang besar aspirasi perubahan dan reformasi yang dibawa ke ruang publik.
Menurutnya, pada awal kepemimpinan Jokowi di periode pertama, arah tata kelola pemerintahan dan agenda reformasi masih berjalan relatif sesuai dengan harapan publik.
“Kemunculan Jokowi dengan aspirasi yang begitu banyak, di periode pertama relatif jalan. Periode pertama Jokowi tiga tahun awal, masih terasa jalan reformasi tata kelolanya,” kenang Anies.
Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa masa baktinya di dalam struktur kabinet pemerintahan berjalan sangat singkat, yakni hanya sekitar 1,5 tahun saat dirinya diamanahkan menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sebelum akhirnya dicopot dalam perombakan kabinet (reshuffle).
Oleh karena itu, Anies menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterlibatan moral maupun kontribusi kebijakan terhadap berbagai produk perundang-undangan kontroversial yang disahkan setelah ia meninggalkan lingkaran kekuasaan—seperti revisi UU KPK, pengesahan UU Cipta Kerja, hingga revisi KUHP.
“Jadi saya tidak berkontribusi ke hal-hal yang menurut saya kurang pas itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, Anies berpandangan bahwa setiap keputusan politik tidak bisa dihakimi hanya dengan melihat ujung perkembangannya di masa depan.
Keputusan, kata dia, harus dinilai berdasarkan konteks ruang dan waktu saat keputusan itu diambil.
Ketika disinggung mengenai potensi rasa bersalah atas dukungannya di masa lalu, Anies menanggapinya dengan santai.
Ia menegaskan bahwa rasa bersalah baru akan muncul apabila dirinya secara aktif ikut merumuskan kebijakan yang merusak tatanan negara.
“Kalau saya ikut bikin kerusakan, baru saya merasa bersalah,” pungkasnya.
[FULL VIDEO]