

DEMOCRAZY.ID – Ketua Indonesia Risk Center, Julius Ibrani mengungkap hasil pertemuannya dengan pihak keluarga dan tetangga Sutrimo.
Sutrimo merupakan pegawai di rumah eks Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Adapun Febrie saat ini terjerat kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) di Kejaksaan Agung (Kejagung).
Julius menuturkan, keluarga dan tetangga Sutrimo merasakan ada nuansa yang berbeda ketika terjadi penggeledahan rumah eks Jampidsus Febrie.
Ia menyebut, pihak keluarga dan tetangga merasakan perbedaan itu termasuk dalam sikap Sutrimo ketika bercengkerama.
“Dari situ sudah kita lihat bahwa, kita sudah prediksi bahwa, kalau latar belakang sebelum meninggal seperti ini, sudah pasti ketika meninggal akan lebih mencekam lagi, dan ternyata benar,” ujar Julius dalam program Kompas Petang KompasTV, Kamis (6/8/2026).
Ia mengaku merasakan suasana yang berbeda juga ketika bertemu pihak keluarga bersama tim.
“Suasananya mencekam, tidak ada cengkerama-cengkerama yang biasanya hangat dan segala macamnya itu, tapi lebih menegangkan dan ada pesan-pesan supaya tidak ramai, nanti wartawan kalau datang nggak usah cerita apa-apa, dan segala macamnya,” ungkapnya.
Dari hasil pertemuan tersebut, Julius pun menduga ada situasi yang disembunyikan atau ditutup-tutupi jika sikap pihak keluarga sampai seperti itu.
Padahal, menurutnya, sikap menutupi itu bisa menimbulkan banyak asumsi yang belum tentu benar juga.
“Kami merasakan suasana kebatinan bahwa pihak keluarga perlu berpikir amat sangat panjang, melihat harus ada benteng ini, benteng itu, dan segala macamnya dengan sangat hati-hati, itu kami rasakan betul,” tuturnya.
Namun, Julius menyatakan pihaknya tetap menghormati perhatian atau concern dari pihak keluarga Sutrimo.
Ia merahasiakan hal-hal yang dibahas dengan keluarga Sutrimo demi keselamatan pihak keluarga tersebut.
Menurutnya, pihak keluarga tidak menginginkan adanya liputan atau pernyataan-pernyataan ke awak media.
“Oleh karena itu, kemarin muncul statement yang mengaku keluarga, sebetulnya itu tetangga, bukan keluarganya,” ucapnya.
Meskipun pihak keluarga enggan memberi keterangan pada awak media, Julius berharap temuan-temuan krusial pihaknya itu bisa menjadi petunjuk bagi pihak penyidik yang mendalami kasus Sutrimo, bahkan penyidik yang mendalami kasus dugaan korupsi eks Jampidsus.
Sebelumnya diberitakan KompasTV, Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri di depan sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 23 Juli 2026 lalu.
Ia kemudian dievakuasi ke RS Muhammadiyah Taman Puring, tetapi dinyatakan meninggal dunia.
Setelah kejadian itu, Polda Metro Jaya pun mendalami peristiwa kematiannya.