

DEMOCRAZY.ID — Panggung kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali kedatangan suara pedas dari kalangan figur publik.
Komika sekaligus pengamat sosial-politik, Pandji Pragiwaksono, melayangkan kritik tajam terhadap dua program andalan pemerintah saat ini, yakni program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), yang dinilainya digarap secara serampangan tanpa kajian yang matang.
Sebelum membedah program-program baru pemerintah, Pandji terlebih dahulu menyoroti bobroknya sistem pelayanan publik yang sudah berjalan lama, dengan mengambil contoh kasus nyata yang dialami oleh seorang pasien bernama Yurizal Tri Chaerawan.
Pasien tersebut dilaporkan harus menunggu lebih dari delapan jam hanya untuk mendapatkan kepastian ruang perawatan di rumah sakit.
Menurut Pandji, insiden semacam itu merupakan cerminan nyata dari kegagalan sistemik yang masih membelenggu program jaminan kesehatan nasional.
Ia mencatat bahwa meski program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan telah menginjak usia 12 tahun, segelintir persoalan mendasar di lapangan tak kunjung tuntas.
“BPJS punya banyak manfaat, tetapi masalahnya juga banyak,” ujar Pandji saat membedah persoalan tersebut melalui tayangan di kanal YouTube pribadinya, dikutip Jumat (7/8/2026).
Berbagai persoalan klasik yang kerap dikeluhkan masyarakat meliputi antrean panjang di Instalasi Gawat Darurat (IGD), pasien telantar yang harus menunggu berjam-jam demi mendapatkan kamar rawat inap, hingga birokrasi sistemik yang dinilai masih berbelit-belit.
Berangkat dari karut-marut pelayanan dasar yang belum beres tersebut, Pandji kemudian membedah tiga poin kritik utama yang diarahkan langsung kepada kebijakan strategis pemerintahan Prabowo:
Pandji mempertanyakan prioritas pemerintah yang getol meluncurkan program-program mercusuar baru, sementara program jaminan sosial yang sudah berjalan selama lebih dari satu dekade masih menyisakan banyak PR besar dan penderitaan bagi masyarakat kecil di sektor kesehatan.
Komika ternama itu melontarkan kritik satir terhadap proyek Kopdes Merah Putih yang belakangan viral akibat berdiri di lokasi-lokasi janggal dan di luar nalar, seperti di tengah laut, tengah hutan lebat, areal persawahan, hingga dekat area pemakaman.
Pandji menilai penempatan lokasi yang absurd tersebut terjadi akibat ambisi besar pemerintah yang memaksakan pembangunan ribuan koperasi secara instan demi mengejar target simbolik semata.
Ia bahkan menyentil pidato Presiden Prabowo saat meresmikan ribuan unit koperasi secara serentak.
“Meluncurkan 1.061 Kopdes, sehingga kalau ditambah menjadi angka 8 (1+0+6+1). Bagaimana logikanya?” tutur Pandji menyindir keras dasar penentuan kebijakan tersebut.
Poin kritik terakhir diarahkan pada penunjukan Dadan Hindayana sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang memegang kendali penuh atas mega-program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pandji mengungkap informasi di balik layar ihwal penunjukan figur tersebut yang dinilai tidak sepenuhnya berbasis kompetensi teknis manajerial yang memadai, melainkan lantaran kedekatan personal di masa lalu, di mana Dadan disebut-sebut pernah berjasa menyembuhkan tanaman milik Prabowo.
“MBG dan Kopdes adalah program besar yang tanpa pilot project, tidak ada riset, dan langsung besar. BPJS yang sudah 12 tahun saja, masih ada masalah,” pungkas Pandji menegaskan kritiknya terhadap minimnya perencanaan matang dalam eksekusi program-program strategis nasional tersebut.