Sikap Jokowi ‘Berubah’ di Tengah Polemik Ijazah, Hendri Satrio Bongkar Makna di Baliknya!

DEMOCRAZY.ID – Perubahan gaya komunikasi Joko Widodo (Jokowi) dalam menanggapi polemik dugaan ijazah menjadi sorotan analis komunikasi politik Hendri Satrio.

Ia menilai mantan Presiden RI itu mulai mengambil posisi bertahan sekaligus melancarkan serangan balik di tengah isu yang turut menyeret nama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Hendri, pernyataan Jokowi belakangan ini menunjukkan bahwa ia mulai memperhitungkan perkembangan situasi politik dan dampak polemik tersebut ke depan.

“Saya menilainya justru lebih dalam dari itu ya. Pak Jokowi mulai memperhatikan situasi, dia mulai berhitung suasana dan mulai berhitung kira-kira ke depan atmosfer politiknya seperti apa,” ujar Hendri, Rabu (21/10/2026).

Hendri menilai perubahan tersebut bukan semata-mata berkaitan dengan persiapan menghadapi Pemilu 2029.

Ia melihat sikap Jokowi lebih sebagai respons terhadap tekanan yang berkembang di tengah polemik ijazah.

Jokowi Dinilai Mulai Mengambil Posisi Serang Balik

Hendri menepis anggapan bahwa sikap Jokowi saat ini merupakan bagian dari persiapan politik menuju Pemilu 2029.

Menurutnya, langkah tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya mempertahankan diri sekaligus merespons pihak-pihak yang dinilai menyerangnya.

“Enggak, itu terlalu jauh kalau ke sana. Tapi kalau kita melihat langkah yang dilakukan oleh Pak Jokowi, ini kan dia seperti dalam posisi bertahan, kemudian mencoba untuk balik menyerang,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pernyataan Jokowi saat mendeklarasikan diri sebagai anggota Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Bandung beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Jokowi disebut menunjukkan sikap percaya diri terhadap peluang PSI untuk berkembang, meskipun partai tersebut masih tergolong kecil.

“Ini kita lihat di Jawa Barat itu dia sampaikan misalnya 7 persen, 8 persen tidak takut. Partai ini kecil tapi akan menjadi besar dan lain-lain dan lain-lain. Jadi dia sudah memulai dengan melihat kondisinya sudah jauh berbeda,” terang Hendri.

Bagi Hendri, pernyataan tersebut menjadi salah satu contoh perubahan cara Jokowi menyampaikan sikap di ruang publik.

Polemik Ijazah Merembet ke Gibran

Hendri menduga, pada awalnya Jokowi memperkirakan polemik mengenai ijazahnya tidak akan berkembang sebesar sekarang.

Namun, situasi dinilai berubah ketika isu tersebut turut menyentuh Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Hendri, perkembangan itu membuat Jokowi merasa perlu memberikan tanggapan lebih terbuka untuk merespons tekanan yang muncul.

“Mungkin perhitungan beliau saat itu ijazahnya dia tidak sepanas ini, tapi kemudian mulai masuk ke arah Mas Gibran sekarang, sehingga dia merasa bahwa kenapa kemudian dia diserang. Oleh karena itu dia berusaha untuk keluar saat ini untuk memberikan hal lain gitu,” imbuhnya.

Ia turut menyoroti penggunaan istilah seperti “penumpang gelap”, “operator politik”, dan “operasi politik” dalam pernyataan Jokowi terkait polemik tersebut.

Hendri menilai pilihan kata itu menunjukkan gaya komunikasi yang lebih tajam dibandingkan respons Jokowi sebelumnya.

“Ini kan kali pertama, kemudian Pak Jokowi berkata bahwa ada penumpang gelap, ada operator politik, ada operasi politik dan lain-lain. Ini kan serangan baliknya Pak Jokowi. Biasanya dia enggak bicara setajam ini,” tegasnya.

Hendri Prediksi Polemik Belum Selesai dalam Waktu Dekat

Hendri mengaku terkejut melihat perubahan sikap Jokowi.

Ia menilai polemik yang terus berkembang berpotensi membuat persoalan tersebut bertahan lebih lama.

Ia membandingkan respons Jokowi terhadap isu ijazahnya dengan tanggapan mengenai pendidikan Gibran.

Menurut Hendri, sebelumnya Jokowi cenderung meminta publik menunggu waktu yang tepat untuk persoalan ijazah, sedangkan ketika menyangkut Gibran, ia memberikan penegasan mengenai riwayat pendidikan putranya.

“Dia bicaranya adalah misalnya kalau seputar ijazah dia tidak terlalu banyak bicara, tunggu waktunya. Kalau Mas Gibran dia bilang sudah Mas Gibran sudah kuliah dan lain-lain dan lain-lain. Ini sikap yang berbeda begitu yang ditunjukkan oleh Pak Jokowi,” ungkapnya.

Hendri kemudian menilai perubahan cara merespons tersebut menjadi petunjuk bahwa polemik itu mulai memengaruhi sikap komunikasi politik Jokowi.

“Tapi sekarang sikap yang berbeda dan saya juga kaget so artinya memang Pak Jokowi sudah mulai terganggu dengan kasus ini yang nampaknya juga tidak akan selesai dalam waktu dekat,” lanjut Hendri.

Ia juga mengkritik pernyataan pendukung Gibran yang menyebut ijazah SMA akan ditunjukkan pada waktunya.

Hendri menilai jawaban semacam itu justru berpotensi membuat polemik terus berlanjut.

“Karena kan akhirnya bayangkan ada isu ketoprak segala kan di sini. Jadi artinya begini ketoprak itu. Pada saat Mas Gibran diminta tunjukkan ijazah SMA-nya, Tapi Andi Azwan bilang, nanti akan ditunjukkan pada waktunya,” kuncinya.

Artikel terkait lainnya