

DEMOCRAZY.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik menyusul pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp 17.500 per dollar AS.
Menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis moneter 1998.
Purbaya menilai fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat sehingga pelemahan rupiah diyakini bisa segera diperbaiki.
“Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujar Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, dikutip Jumat (16/5/2026).
Purbaya mengatakan, upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah memang menjadi kewenangan bank sentral, yakni Bank Indonesia.
Meski demikian, Kementerian Keuangan juga menyiapkan langkah untuk membantu memperkuat stabilitas pasar keuangan domestik.
Salah satu fokus pemerintah saat ini ialah menjaga stabilitas pasar obligasi atau bond market agar arus modal asing tidak terus keluar dari Indonesia.
“Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market. Mungkin kita coba lihat apakah kita bisa masuk untuk membantu apa enggak, tetapi pasti ke depan akan ada perbaikan, jadi jangan takut,” kata dia.
Purbaya menjelaskan, stabilitas pasar surat berharga negara menjadi penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan global terhadap pasar keuangan.
Menurut dia, ketika pasar obligasi stabil, investor tidak akan terburu-buru melepas aset karena khawatir mengalami capital loss atau kerugian akibat penurunan harga obligasi.
Sebaliknya, jika harga obligasi kembali menguat, investor justru berpotensi memperoleh capital gain sehingga dapat menarik kembali aliran modal asing masuk ke pasar domestik.
“Kalau bond market stabil, orang itu enggak jual, mereka enggak takut dengan capital loss, yang keluar juga akan berkurang. Apalagi kalau nanti bond-nya menguat, kan ada potensi capital gain, biasanya mereka suka,” ujar Purbaya.
Sumber: Kompas