DEMOCRAZY.ID — Sejarah panjang peradaban manusia selalu mencatat nama-nama penguasa zalim yang berakhir tragis dalam kehinaan dan kutukan publik.
Dari era Firaun dan Namrud di zaman purba, hingga Hitler, Aidit, serta Netanyahu di era modern—seluruh penindas rakyat yang menggunakan dusta dan kezaliman demi kekuasaan selalu dikenang sebagai figur yang terkutuk.
Pemerhati Politik dan Kebangsaan, M Rizal Fadillah, menyoroti tajam fenomena hancurnya marwah mantan Presiden Joko Widodo dan sang anak, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dalam analisis menohoknya, Rizal menilai dua nama ini resmi tercatat sebagai simpul terkutuk dalam lembaran sejarah politik Indonesia.
Rizal menelanjangi bagaimana Jokowi menggunakan topeng kesederhanaan dan wajah memelas demi memanipulasi simpati rakyat selama sepuluh tahun berkuasa.
Dibalik citra merakyat tersebut, tersembunyi syahwat politik tak terbatas yang nekat merobek-robek konstitusi demi membangun dinasti kekuasaan keluarga.
“Sebagai pelanjut kutukan kepada Aidit, Jokowi muncul dan melejit. Pembohong, penipu, pemalsu, dan perampok disandangnya. Wajah memelas dan tampilan sederhana manipulasi citra untuk menarik simpati… Akhirnya ia pun dimaki dan menjadi tokoh yang terkutuk!” tegas M Rizal Fadillah.
Puncak dari kejahatan demokrasi trah Solo tereksekusi saat Jokowi nekat menggendong Gibran ke kursi Wakil Presiden melalui manuver pembegalan Mahkamah Konstitusi.
Namun, takdir kekuasaan haram tersebut tak bertahan lama.
Eskalasi kebencian rakyat terhadap Gibran kian tak terbendung setelah skandal ijazah bodong sang Wapres resmi dibongkar dan diputus oleh lembaga hukum.
“Raja badut ini sangat berharap pada Gibran… Gibran ternyata sejak duduk hingga kini menjadi makian publik. Terus bereskalasi akibat kekacauan ijazahnya diputus oleh hukum. Terkutuklah Gibran!” cerce Rizal.
Rizal menegaskan bahwa kini nama Jokowi dan Gibran selalu diucapkan rakyat dalam satu hembusan napas kekecewaan dan amarah.
Rakyat mendesak agar kedua figur ini segera diseret ke meja hijau dan dijebloskan ke dalam penjara untuk mempertanggungjawabkan seluruh dosa politik, penyalahgunaan wewenang, dan perusakan moral bernegara.
“Dua manusia itu menjadi catatan buruk dalam sejarah bangsa dan negara. Indonesia harus konsisten menjadi negara bermoral. Basmi kebohongan, kemunafikan, korupsi, kezaliman, kebodohan, dan keserakahan. Ganyang Jokowi dan Gibran!” pungkasnya penuh ketegasan.
Tidak ada lagi tempat bagi dinasti haram di bumi Indonesia.
Gelombang kutukan rakyat adalah sinyal akhir bahwa panggung Sandiwara Solo telah resmi ditutup dalam kebinasaan!