DEMOCRAZY.ID — Presiden Prabowo Subianto kembali meluapkan kekesalan dan amarahnya terkait masifnya kebocoran kekayaan serta sumber daya alam (SDA) Indonesia.
Prabowo secara gamblang menyebut bahwa praktik penyelundupan dan manipulasi ekspor selama bertahun-tahun telah membuat bangsa dan rakyat Indonesia menjadi korban penipuan terstruktur.
Prabowo menilai sistem lama yang berjalan penuh pembiaran telah melapangkan jalan bagi para mafia dan elit serakah untuk menguras harta negara ke luar negeri tanpa tersentuh hukum.
Dalam keterangannya, Prabowo menegaskan bahwa penyelewengan kekayaan alam Indonesia sudah berada dalam level krisis yang membahayakan kedaulatan serta kekuatan ekonomi nasional.
“Bangsa kita ditipu, rakyat kita ditipu, pemerintah kita ditipu,” tegas Prabowo murka, dikutip Jumat (23/10/2026).
Prabowo menguliti sejumlah komoditas strategis nasional yang saban hari digarong dan diselundupkan oleh jejaring kejahatan, mulai dari timah, batu bara, emas, hingga barang-barang subsidi rakyat seperti bahan bakar minyak (BBM) dan pupuk.
Bagi Prabowo, aksi pengerukan dan penyelundupan SDA bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan tindakan pengkhianatan yang secara perlahan membunuh daya tahan ekonomi Indonesia.
“Penyelundupan adalah ibarat menikam bangsa kita, menikam badan kita. Penyelundupan adalah usaha untuk membunuh ekonomi kita,” cetusnya dengan nada keras.
Ia menggambarkan kekayaan alam sebagai aliran darah yang menopang hidup seluruh rakyat.
Pembiaran terhadap kebocoran ini sama saja dengan membiarkan Indonesia mati perlahan.
“Itu adalah ibarat darah kita. Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” ujar Prabowo menambahkan.
Pernyataan menohok Prabowo ini sejalan dengan pengungkapannya dalam Rapat Paripurna DPR RI, di mana Indonesia diperkirakan kehilangan potensi pendapatan raksasa hingga US$908 miliar atau setara Rp16.000 triliun.
Kehilangan fantastis ini diakibatkan oleh ulah para eksportir yang melakukan praktik penipuan underpricing dan underinvoicing demi menghindari pajak dan menyembunyikan devisa.
Guna memberantas kebocoran darah negara tersebut, pemerintah mengarahkan seluruh ekspor komoditas strategis melalui satu pintu di bawah pengawasan ketat Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI).
Namun publik menagih: apakah pidato berapi-api dan gertakan keras Prabowo ini benar-benar diikuti oleh penangkapan para cukong besar dan pengusaha lingkaran dalam yang selama ini menikmati hasil kejahatan tersebut, atau sekadar retorika panggung untuk menutupi kelemahan tata kelola pemerintahan?