Mengejutkan! Hipotesa Eks Menteri Ungkap ‘Geng Solo’ Mainkan Kartu As Habis-Habisan Lawan Prabowo Bulan Juli Ini

DEMOCRAZY.ID — Panggung politik nasional kembali memanas setelah Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan lemparan isu yang langsung menyedot perhatian publik.

Bulan Juli 2026 secara tegas disebutnya sebagai momentum “gong” dimulainya perlawanan terbuka dari kekuatan-kekuatan gelap yang berupaya menjegal agenda utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Tanpa basa-basi, Said Didu membeberkan hipotesis tajam mengenai adanya aliansi kekuatan lama yang merasa terancam dengan kebijakan-kebijakan strategis Istana.

“Hipotesa saya, bahwa betul-betul terjadi sekarang serangan geng solo, oligarki parcok, dan mungkin sekarang sudah ditambah parjo, terhadap agenda utama dari Presiden Prabowo,” ujar Said Didu di kanal YouTube Manusia Merdeka – MSD, dikutip Rabu (29/7/2026).

Meski tidak menyebutkan rincian identitas spesifik di balik istilah-istilah tersebut, sinyalemen perlawanan ini dihubungkan langsung dengan benturan kepentingan atas tiga agenda prioritas bersih-bersih yang tengah digalakkan pemerintah.

Tiga “Obor” Pembersih yang Bikin Gerah Para Penguasa Gelap

Menurut Said Didu, ada tiga agenda utama pemerintah yang dinilai sangat bagus namun langsung memicu reaksi balik dari pihak-pihak yang selama ini menikmati kue kekuasaan.

Ketiga agenda tersebut menyangkut perang terhadap korupsi, penertiban cengkeraman oligarki, hingga upaya penyelamatan aset-aset negara.

“Agenda utama yang saya anggap bagus ada tiga. Yaitu pemberantasan obor korupsi, obor penertiban oligarki, dan obor pengambilan aset negara,” tegasnya.

Ia menilai, perlawanan dari kelompok yang disebutnya sebagai geng Solo, oligarki, dan parcok merupakan konsekuensi logis ketika penguasa mulai menyentuh simpul-simpul kenyamanan para pemburu sewa (rent-seekers).

Dinamika perlawanan ini, lanjutnya, mulai meletup dan terlihat secara kasat mata sejak awal bulan Juli 2026.

“Maka mulai bulan ini, bangkit perlawanan solo, oligarki, parcok,” tandasnya.

Metafora “Bubur Panas Solo”: Desakan Ketegasan di Lingkar Istana

Lebih jauh, Said Didu menyayangkan lambannya langkah pembersihan unsur-unsur yang berpotensi menjadi duri dalam daging di dalam tubuh pemerintahan.

Ia menyitir metafora “bubur panas” sebagai pesan agar Presiden Prabowo tidak ragu-ragu mengambil tindakan radikal dan tegas terhadap pihak-pihak yang mencoba merongrong dari dalam.

“Bahkan dulu kita berharap tidak keluar istilah; Pak Presiden Prabowo harus segera makan bubur panas solo, oligarki, parcok agar dia tidak mengganggu agenda pemerintahannya,” pungkas Said Didu.

Artikel terkait lainnya