DEMOCRAZY.ID — Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDI-P), Megawati Soekarnoputri, memberikan klarifikasi tegas perihal posisi politik partainya terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menekankan bahwa PDI-P tidak mengambil posisi sebagai oposisi, melainkan memilih berada di luar kabinet sebagai kekuatan penyeimbang.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat memberikan pidato dalam acara Ekspose Naskah Sumber Arsip Dasar Negara II yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) pada Senin, 10 Agustus 2026.
Ia mengingatkan bahwa konstelasi politik Indonesia menganut sistem pemerintahan presidensial, yang secara prinsip tata negara tidak mengenal terminologi oposisi maupun koalisi layaknya sistem parlementer.
“Yang namanya negara kita ini kan namanya adalah dengan sistem presidensial, betul atau tidak? Betul toh, kok saya selalu diomongin oposisi. Memangnya ada di dalam sistem presidensial? No oposisi, tidak ada koalisi,” tegas Megawatid, Kamis (13/8/2026).
Megawati juga membeberkan isi pembicaraan langsungnya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyampaikan secara satun dan terbuka kepada kepala negara bahwa partainya memilih berada di luar struktur pemerintahan demi menjalankan fungsi kontrol yang sehat.
“Makanya saya katakan ‘Pak Prabowo, Mas Presiden, saya minta untuk…’, saya datang benar ngomong baik-baik saya tidak akan ditawari untuk masuk, ‘Saya tidak masuk ke kabinet, Pak, terima kasih banget, saya akan berada di luar sebagai penyeimbang’. Dengerin tuh semua, saya bukan oposisi tahu, enak aja!” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati turut melontarkan kritik pedas terhadap para buzzer di media sosial yang kerap memelintir narasi dan gagal memahami esensi dari peran penyeimbang yang diambil partainya.
Ia menegaskan bahwa posisi sebagai penyeimbang berarti memberikan dukungan penuh apabila kebijakan pemerintah bernilai positif bagi rakyat, sekaligus melayangkan kritik korektif jika ada kebijakan yang dinilai menyimpang.
“Ngerti opo nggak oposisi kui opo? Saya bilang penyeimbang, terus ada yang bilang buzzer ‘penyeimbang apa?’, goblok ini si buzzer, nggak pernah baca dia, eh iya dong, kenapa nggak boleh? Artinya apa, kalau benar saya benarkan, kalau nggak tentu masa saya nggak boleh ngomong, terus mau dijadiin apa? Masuk arsip loh, iya dong, buat apa ini ada, Pak, arsip,” pungkasnya.