Jokowi Merasa Reputasinya Di-downgrade, Arif Wicaksono Heran Setiap Kritik Dia Anggap Sebagai Operasi Politik

DEMOCRAZY.ID – Pegiat media sosial Arif Wicaksono mengaku heran terhadap Presiden ke-7 RI Jokowi yang merasa reputasi politiknya sedang menjadi sasaran operasi untuk diturunkan atau downgrade.

Arif mengatakan bahwa reputasi seorang pemimpin tidak semestinya diukur dari banyak atau sedikitnya kritik yang diterima.

Menurutnya, rekam jejak selama memegang kekuasaan serta pertanggungjawaban atas keputusan yang diambil menjadi hal yang lebih penting.

Arif Sebut Reputasi Ditentukan Rekam Jejak

Arif menegaskan bahwa kritik terhadap seorang tokoh politik tidak serta-merta menunjukkan adanya operasi untuk merusak reputasi.

“Pak, reputasi itu bukan ditentukan oleh kritik, tetapi oleh rekam jejak dan pertanggungjawaban atas kekuasaan,” ujar Arif, Jumat (16/10/2026).

Tidak berhenti di situ, Arif juga mengisyaratkan bahwa kritik merupakan bagian dari dinamika kehidupan demokrasi.

Karena itu, menurut dia, kritik seharusnya tidak langsung dimaknai sebagai upaya terorganisasi untuk menjatuhkan seseorang.

Sesalkan Kritik yang Dianggap Konspirasi

Arif kemudian menyindir apa yang ia nilai sebagai sikap yang berbeda dalam menyikapi kritik dan dukungan politik.

“Setiap kritik dianggap konspirasi. Ketika dipuji, rakyat disebut pendukung,” lanjutnya.

Ia menekankan, dalam sistem demokrasi, kritik terhadap pejabat maupun mantan pejabat publik merupakan bagian dari pengawasan masyarakat.

Lebih jauh, Arif menyampaikan penilaian menohok terhadap sosok Presiden dua periode tersebut.

“Jokowi bukan Negarawan!,” tegasnya.

Jokowi Sebut Ada Operasi Politik untuk Jatuhkan Reputasi Gibran

Sebelumnya, Jokowi menanggapi polemik persyaratan pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kembali menjadi perbincangan publik.

Ia menduga persoalan tersebut berkaitan dengan operasi politik yang bertujuan menurunkan reputasi politik seseorang.

Jokowi menilai, isu tersebut tidak hanya berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan lain yang lebih penting, tetapi juga dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk menyerang reputasi politik dirinya maupun putra sulungnya.

Di kediamannya di Solo, Jumat (16/10/2026) Jokowi mengatakan polemik itu sudah diperkirakannya sejak awal.

Ia menyebut adanya pihak yang menunggangi persoalan tersebut sehingga pembahasannya semakin ramai.

“Kan sudah saya sampaikan sejak awal ini ada operasi politik kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi ramai sekali. Tapi kalau buat saya biasa saja,” kata Jokowi.

Jokowi Sebut Ada Operasi Politik

Jokowi menduga polemik yang berkembang bukan sekadar perdebatan mengenai persyaratan pendidikan Gibran.

Menurutnya, isu tersebut juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sarana untuk menurunkan citra politik pihak yang menjadi sasaran.

Ia bahkan secara terang-terangan menyebut adanya dugaan operasi politik yang diarahkan untuk merusak reputasi seseorang.

“Ini ada operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang,” kata mantan Walkot Solo itu.

Ketika ditanya apakah dugaan operasi politik itu ditujukan kepada dirinya atau Gibran, Jokowi menyebut keduanya berpotensi menjadi sasaran.

“Ya dua-duanya bisa,” ucap Jokowi.

Artikel terkait lainnya