DEMOCRAZY.ID – Warga Indonesia perlu meningkatkan kesiagaan menghadapi ancaman gempa besar, termasuk gempa megathrust di kawasan Sumatra.
Masyarakat juga diimbau mengubah pola pikir dari menunggu kapan gempa terjadi menjadi memastikan kesiapan ketika bencana datang.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan gempa tidak dapat dicegah maupun diprediksi secara tepat waktu kejadiannya.
Namun, risiko korban dapat ditekan jika masyarakat memahami ancaman dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
“Kita harus mengubah paradigma dari kapan gempa akan terjadi menjadi apakah kita sudah siap ketika gempa terjadi? Gempa tidak dapat dicegah dan waktunya belum dapat diprediksi. Tapi, korban dapat dikurangi,” kata Daryono, dikutip Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, warga perlu mengetahui apakah tempat tinggalnya berada di kawasan rawan gempa atau tsunami, mengenali bangunan yang aman, jalur evakuasi, titik kumpul, serta menyiapkan rencana komunikasi keluarga.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah zona megathrust Mentawai-Siberut dan Mentawai-Pagai di Sumatra Barat.
Berdasarkan kajian yang dikutip Daryono, kedua segmen tersebut secara teoritis memiliki potensi gempa berkekuatan sekitar Mw8,9.
Kawasan ini berada di barat Sumatra, tempat Lempeng India-Australia terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Sunda.
“Gerakan ini berlangsung sangat lambat-hanya beberapa sentimeter per tahun, sehingga tidak kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam puluhan hingga ratusan tahun, pergerakan tersebut dapat menyebabkan batuan mengalami tekanan dan menyimpan energi dalam jumlah sangat besar,” ujarnya.
Daryono menjelaskan, penelitian Ongky Anggara dkk. (2026) menggunakan data GNSS dari 35 stasiun pada periode 2018-2021 untuk mengukur deformasi kerak bumi di Sumatra, termasuk 11 stasiun di Kepulauan Mentawai dan 14 stasiun di sekitar Zona Sesar Sumatra.
Hasilnya menunjukkan adanya pemendekan atau kompresi kerak bumi di Sumatra bagian tengah akibat interaksi lempeng.
Penelitian tersebut juga menemukan maximum shear strain yang tinggi di bagian utara Siberut dan kawasan Padang.
Menurut Daryono, temuan ini menunjukkan proses tektonik masih berlangsung dan tegangan terus berkembang.
“Kerak bumi di kawasan tersebut tidak sedang ‘diam’, pengukuran geodesi menunjukkan proses tektonik masih terus bekerja dan tegangan terus berkembang,” katanya.
Perhatian khusus juga tertuju pada bagian bidang pertemuan lempeng di sekitar Mentawai yang masih mengalami coupling atau kondisi relatif terkunci.
Zona dengan coupling kuat terutama ditemukan di bagian barat Siberut, sementara wilayah lain menunjukkan pola lebih kompleks akibat pelepasan energi pada gempa sebelumnya.
Dalam skenario periode ulang 200 tahun, penelitian memperkirakan Segmen A di utara Siberut secara teoritis memiliki potensi hingga Mw8,98, sedangkan Segmen B di selatan Siberut sekitar Mw8,79.
Namun, Daryono menegaskan angka tersebut bukan ramalan bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi.
“Mw8,98 dan Mw8,79 bukan prediksi bahwa gempa sebesar itu akan segera terjadi. Angka tersebut merupakan estimasi potensi berdasarkan model akumulasi slip, coupling, dan asumsi periode ulang yang digunakan dalam penelitian,” tegasnya.
Ancaman gempa di Sumatra Barat tidak hanya berasal dari zona megathrust di laut.
Sejarah mencatat kawasan tersebut pernah mengalami gempa besar, termasuk Bengkulu pada 2007 dan Mentawai pada 2010, sementara gempa besar pada 1833 diperkirakan mencapai sekitar Mw8,8 dan memicu tsunami di pesisir.
“Gempa besar di kawasan ini bukan sekadar kemungkinan berdasarkan model komputer, tetapi merupakan bagian dari sejarah geologi pantai barat Sumatra,” kata Daryono.
Di daratan, terdapat pula Zona Sesar Sumatra, termasuk Segmen Sianok.
Penelitian memperkirakan laju geser Segmen Sianok sekitar 16,5 ± 4 milimeter per tahun dengan kedalaman penguncian sekitar 15 ± 3 kilometer.
“Gempa yang dihasilkannya umumnya tidak sebesar gempa megathrust, tetapi karena sumbernya dangkal dan dapat berada dekat kawasan berpenduduk, guncangannya tetap dapat sangat merusak,” ujarnya.
Dengan demikian, Sumatra Barat menghadapi dua sumber bahaya sekaligus, yakni gempa besar dari zona subduksi di barat dan gempa dangkal dari sesar aktif di daratan.
Daryono menegaskan temuan soal akumulasi energi tektonik di Mentawai dan Sumatra Barat bukan alasan untuk panik, melainkan peringatan agar kesiapsiagaan diperkuat.
“Ilmu pengetahuan belum mampu menentukan tanggal, jam, dan lokasi tepat terjadinya gempa besar,” katanya.
Karena itu, masyarakat di Mentawai dan pesisir Sumatra Barat perlu mengetahui jalur serta lokasi evakuasi, terutama karena gempa megathrust di laut berpotensi memicu tsunami.
“Dalam skenario tsunami lokal, waktu adalah faktor keselamatan yang sangat berharga. Karena itu, apabila merasakan guncangan gempa yang sangat kuat atau berlangsung lama di kawasan pantai, masyarakat perlu memahami bahwa guncangan tersebut sendiri merupakan peringatan alam untuk segera melakukan evakuasi sesuai prosedur setempat,” tegasnya.
Daryono juga mendorong penguatan rumah, sekolah, rumah sakit, hotel, kantor pemerintahan, hingga infrastruktur penting agar memenuhi standar ketahanan gempa.
“Pesan terpenting dari penelitian ini bukan ‘gempa besar Mentawai akan segera terjadi’. Pesannya adalah bahwa proses tektonik di bawah Mentawai dan Sumatra Barat masih aktif, sebagian zona masih menyimpan deformasi, dan secara ilmiah terdapat potensi gempa besar pada masa mendatang,” pungkasnya.