Bukan Sekadar Bocor! 14 Poin Memo AS-Iran Ini Akan Mengubah Peta Dunia Selamanya: Perdamaian atau Jebakan?

DEMOCRAZY.ID – Ada ‘angin segar’ di tengah kebuntuan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Disebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyebut bahwa kesepakatan dengan Iran sangat mungkin tercapai.

Namun dia juga mengingatkan akan kembali membombardir Iran jika negosiasi tidak tercapai .

Pernyataan terkait peluang tercapainya negosiasi ini muncul setelah Amerika Serikat mengusulkan nota kesepahaman sebanyak satu lembar yang disebut bisa membuka jalan negosiasi diantara kedua negara tersebut.

Namun hingga saat ini Iran belum memberikan jawaban resmi atas proposan baru AS.

Pimpinan negosiator Iran yang juga kepala parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa AS berusaha memaksa Iran untuk menyerah.

Meski begitu, kantor berita Reuters dan media Amerika Axios, mengutip sejumlah sumber, melaporkan bahwa kedua negara itu kini semakin dekat menuju kesepakatan berupa memo satu halaman untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah sekaligus menjadi kerangka negosiasi nuklir yang lebih rinci.

Menurut sumber tersebut, memang belum ada kesepakatan final.

Namun kondisi saat ini disebut menjadi titik paling dekat menuju perdamaian sejak perang dimulai.

Para negosiator di Washington juga dikabarkan menunggu respons Iran terkait beberapa poin penting dalam 48 jam ke depan.

Kebocoran isi memo yang berisi 14 poin utama itu sebagian besar berasal dari Washington dan pihak mediator Pakistan, sementara Iran masih memilih berhati-hati dan belum banyak berbicara secara terbuka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Teheran hanya akan menerima kesepakatan yang adil dan menyeluruh, tanpa secara langsung menyinggung draf memo tersebut.

Bocoran Nota Kesepahaman Iran-AS

Menurut laporan Axios dan dikutip dari laman NDTV, Jumat 8 Mei 2026, salah satu isi kesepakatan itu adalah Iran akan menghentikan sementara pengayaan uranium.

Sebagai gantinya, Amerika Serikat akan mencabut sanksi dan membuka akses miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.

Selain itu, kedua pihak juga disebut akan mengurangi pembatasan pelayaran di Strait of Hormuz.

Dalam bentuknya saat ini, memo tersebut memang sengaja dibuat singkat dan lebih berupa kerangka dasar, bukan perjanjian lengkap.

Dokumen itu nantinya akan menandai berakhirnya perang di kawasan serta dimulainya negosiasi selama 30 hari untuk membahas detail kesepakatan lebih lanjut.

Negosiasi lanjutan itu disebut kemungkinan digelar di Islamabad atau Jenewa.

Laporan Axios juga menyebut kedua pihak masih membahas lamanya moratorium pengayaan uranium.

Sejumlah sumber menyebut durasinya kemungkinan berada di kisaran 12 hingga 15 tahun.

Sebelumnya, Iran mengusulkan penghentian pengayaan selama lima tahun, sedangkan Amerika Serikat meminta hingga 20 tahun.

Amerika Serikat juga ingin memasukkan klausul bahwa jika Iran melanggar aturan pengayaan uranium, masa moratorium akan diperpanjang.

Setelah masa itu berakhir, Iran disebut hanya boleh melakukan pengayaan uranium pada level rendah sekitar 3,67 persen.

Selain itu, Iran juga diminta berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir maupun aktivitas yang berkaitan dengan persenjataan nuklir.

Memo tersebut juga dikabarkan memuat klausul yang melarang Iran mengoperasikan fasilitas nuklir bawah tanah serta mewajibkan pengawasan lebih ketat, termasuk inspeksi mendadak oleh inspektur PBB.

Di sisi lain, Amerika Serikat diwajibkan secara bertahap mencabut sanksi terhadap Iran dan mencairkan dana Iran yang dibekukan di berbagai negara.

Dua sumber lain juga mengungkapkan bahwa Iran kemungkinan akan diminta memindahkan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi keluar dari negaranya, sesuatu yang selama ini ditolak Teheran. Salah satu opsi yang dibahas adalah memindahkan material tersebut ke Amerika Serikat.

Masih ‘Mengambang’

Meski begitu, banyak poin dalam memo 14 pasal tersebut masih bergantung pada tercapainya kesepakatan final antara Teheran dan Washington.

Artinya, konflik baru atau ketegangan berkepanjangan masih bisa terjadi meski perang terbuka telah berhenti.

Memo kesepahaman yang disebut sebagai inisiatif Amerika Serikat itu dikabarkan dinegosiasikan oleh utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, bersama sejumlah pejabat Iran baik secara langsung maupun melalui mediator.

Namun pemerintahan Trump disebut menilai kepemimpinan Iran saat ini sedang terpecah sehingga sulit mencapai kesepakatan antara kelompok moderat dan garis keras.

Bahkan beberapa pejabat AS masih ragu kesepakatan awal benar-benar bisa tercapai.

Pernyataan Kubu AS

Trump mengatakan jika Iran menerima apa yang telah disepakati, maka perang akan berakhir.

Namun jika tidak, pemboman akan kembali dilakukan dengan tingkat dan intensitas yang jauh lebih besar.

“Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik dalam 24 jam terakhir dan sangat mungkin kami mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, juga mengatakan kesepakatan final tidak harus selesai dalam satu hari.

“Ini sangat kompleks dan teknis. Tetapi kami membutuhkan solusi diplomatik yang jelas terkait apa saja yang bersedia mereka negosiasikan dan sejauh mana konsesi yang siap mereka berikan,” ujarnya.

Meski demikian, Rubio juga sempat menyebut para pemimpin Iran “tidak waras” dan meragukan apakah mereka benar-benar akan membuat kesepakatan.

Respon Iran

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan proposal Amerika Serikat masih dalam tahap peninjauan.

Ia menambahkan Iran akan menyampaikan sikap resminya kepada mediator Pakistan setelah pembahasan internal selesai dilakukan.

Sumber: VIVA

Artikel terkait lainnya