Al-Aqsa Membara! Aksi Israel Kibarkan Bendera dan Nyanyikan Lagu Kebangsaan Picu Kemarahan Dunia

DEMOCRAZY.ID – Ketegangan kembali memanas di Kota Suci Yerusalem setelah sekelompok pemukim ekstrimis Yahudi Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki sambil mengibarkan bendera Israel dan menyanyikan lagu kebangsaan negara tersebut.

Dilansir dari Yeni Safak, Selasa (2/6/2026), aksi yang dilakukan di bawah perlindungan polisi Zionis Israel itu memicu kecaman luas karena dianggap melanggar status historis dan kesucian salah satu situs paling penting bagi umat Islam.

Rekaman video yang beredar di media sosial belum lama ini memperlihatkan kelompok pemukim ekstremis memasuki kawasan Haram al-Sharif di Kota Tua Yerusalem.

Mereka terlihat membuka dan mengibarkan bendera Israel di halaman Masjid Al-Aqsa, kemudian menyanyikan lagu kebangsaan Israel di hadapan aparat kepolisian yang tidak melakukan tindakan apa pun untuk menghentikan aksi tersebut.

Insiden itu memicu kemarahan warga Palestina dan berbagai pihak yang menilai tindakan tersebut sebagai provokasi serius terhadap status quo yang selama puluhan tahun mengatur pengelolaan dan aktivitas keagamaan di kawasan suci tersebut.

Pengamat menyoroti adanya standar ganda dalam kebijakan keamanan Israel.

Selama ini, aparat diketahui melarang pengibaran bendera asing di kompleks Al-Aqsa, namun kali ini membiarkan simbol nasional Israel dikibarkan di dalam area masjid.

Sejumlah pakar memperingatkan demonstrasi politik di kawasan suci berpotensi memperburuk ketegangan agama dan politik yang sudah lama membara di wilayah tersebut.

Al-Aqsa sendiri merupakan kiblat pertama umat Islam dan masjid tersuci ketiga setelah Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Jejak Provokasi yang Terus Berulang

Aksi terbaru ini terjadi hanya beberapa pekan setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan ekstrimis, Itamar Ben-Gvir, memasuki kompleks Al-Aqsa pada 14 Mei lalu.

Dalam kunjungannya, Ben-Gvir mengibarkan bendera Israel dan menyatakan bahwa kawasan tersebut merupakan milik bangsa Yahudi.

Pernyataan tersebut memicu kecaman dari Otoritas Palestina, pemerintah Yordania, serta berbagai pihak internasional yang menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap status historis situs suci tersebut.

Bagi warga Palestina, rangkaian aksi tersebut bukan sekadar kunjungan politik, melainkan bagian dari upaya sistematis untuk mengubah karakter dan identitas Al-Aqsa yang selama ini berada di bawah pengelolaan Wakaf Islam Yordania.

Sekolah Palestina di Ramallah Jadi Sasaran

Di saat yang sama, tekanan terhadap warga Palestina juga terjadi di wilayah lain Tepi Barat.

Sejumlah pemukim Israel dilaporkan menyerang sebuah sekolah swasta yang masih dalam tahap pembangunan di Desa Rammun, sebelah timur Ramallah.

Pengawas proyek sekolah, Ali Munasira, mengatakan para penyerang merusak 40 pintu kayu dan tiga pintu besi. Mereka juga mencuri kamera pengawas serta generator listrik yang berada di lokasi pembangunan.

Akibat serangan tersebut, kerugian ditaksir mencapai sekitar 80 ribu dolar AS. Insiden ini disebut sebagai serangan ketiga dalam beberapa hari terakhir terhadap fasilitas sipil Palestina.

Meningkatnya frekuensi serangan terhadap infrastruktur sipil memunculkan kekhawatiran mengenai tekanan yang semakin besar terhadap masyarakat Palestina di wilayah pendudukan.

Sejumlah pihak bahkan menilai tindakan tersebut mengarah pada upaya pembersihan etnis secara bertahap melalui intimidasi dan penghancuran sarana kehidupan warga.

Turki Desak Dunia Bertindak

Pemerintah Turki mengecam keras pelanggaran yang terjadi di Masjid Al-Aqsa maupun serangan terhadap fasilitas sipil Palestina.

Ankara mendesak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah konkret guna menghentikan berbagai pelanggaran yang terus berulang di wilayah pendudukan.

Perkembangan terbaru ini kembali menunjukkan rapuhnya situasi di Yerusalem dan Tepi Barat.

Banyak pihak khawatir, jika tidak ada respons tegas dari dunia internasional, rangkaian provokasi di Al-Aqsa dapat memicu gelombang ketegangan yang lebih luas dan mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

Sumber: Inilah

Artikel terkait lainnya