DEMOCRAZY.ID – Muhammad Said Didu melontarkan tudingan serius terkait dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Sekretaris Kementerian BUMN 2005-2010 ini menyebut tindakan yang dituduhkan kepada mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo sebagai bagian dari langkah menuju makar oleh kelompok yang dinamainya “Geng SOP”.
Tudingan tersebut disampaikan Said Didu dalam tulisan berjudul Detik-Detik Penentuan Ronde Terakhir Solo vs Hambalang.
Dalam tulisannya, ia menggambarkan dinamika politik nasional sebagai pertarungan antara kelompok Solo dan Hambalang yang menurutnya memasuki fase penentuan pada Oktober hingga awal November 2026.
“Saya tegas menyatakan bahwa penyadapan yang dilakukan oleh mantan Kapolri kepada Presiden Prabowo adalah langkah menuju makar oleh Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok),” tulis Said Didu.
Ia memperkirakan Oktober 2026 menjadi ronde terakhir persaingan kedua kelompok tersebut.
Said Didu bahkan menggunakan istilah “To Kill or To Be Killed” untuk menggambarkan situasi politik yang dinilainya semakin tajam.
Menurut Said Didu, kelompok yang disebutnya sebagai Geng SOP telah menyiapkan pukulan politik pada awal November.
Ia menuding operasi lapangan tersebut dipimpin mantan Kapolri Listyo Sigit Prabowo (LSP), bersama faksi yang disebutnya berasal dari kelompok Solo di dalam kabinet pemerintahan Prabowo.
Said Didu juga menyebut pemberhentian Listyo Sigit dari jabatan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) sebagai salah satu langkah yang menurutnya menguntungkan posisi Presiden Prabowo dalam menghadapi situasi tersebut.
Dalam tulisannya, Said Didu memaparkan tiga dugaan langkah yang menurutnya dilakukan kelompok tersebut.
Pertama, penyadapan terhadap sejumlah tokoh negara.
Ia menuding adanya penyadapan terhadap Presiden, pejabat negara, dan pimpinan partai politik yang dianggap berseberangan dengan kelompok yang disebutnya sebagai Geng SOP.
Kedua, upaya merusak kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo.
Said Didu mencontohkan sejumlah dugaan gangguan yang menurutnya menjadi bagian dari operasi tersebut, mulai dari gangguan pasokan BBM, sabotase program Makan Bergizi Gratis (MBG), gangguan pasar modal, hingga pemadaman listrik PLN.
Ia menuding tindakan-tindakan tersebut dilakukan melalui kerja sama antara kelompok yang disebutnya sebagai Parcok dan sejumlah menteri yang loyal kepada Joko Widodo (Jokowi).
Ketiga, penggalangan massa untuk kepentingan politik.
Said Didu mengklaim terdapat upaya penguasaan serikat pekerja dan persiapan organisasi yang melibatkan mantan narapidana terorisme (napiter).
Menurutnya, penggalangan massa tersebut dipimpin oleh mantan Kapolri.
Ia juga memperingatkan bahwa jaringan yang disebutnya sebagai Geng SOP masih berada di dalam kabinet pemerintahan Prabowo.
Di bagian akhir tulisannya, Said Didu menyampaikan dua langkah yang menurutnya perlu dilakukan Presiden Prabowo untuk menghadapi situasi tersebut.
Pertama, memberhentikan seluruh pejabat yang dinilainya loyal kepada Jokowi.
Kedua, menutup jalur logistik kelompok yang ia tuding terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal.
Ia menyebut perjudian daring, narkoba, pencucian uang, dan pertambangan ilegal sebagai sejumlah sumber pendanaan yang menurutnya perlu ditindak.
“Langkah-langkah yang ditunggu agar Presiden Prabowo bisa memenangkan ronde terakhir,” tulisnya.
Detik-Detik Penentuan Ronde Terakhir Solo vs Hambalang.
Oleh : Muhammad Said Didu.*Saya tegas menyatakan bahwa penyadapan yang dilakukan oleh mantan Kapolri kepada Presiden @prabowo adalah langkah menuju makar oleh Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok).*
Seperti perkiraan saya bhw bulan Oktober 2026 adalah ronde terakhir Hambalang vs Solo dan akan terjadi *To Kill or To Be Killed.*
Geng SOP (Solo, Oligarki, Parcok) menyiapkan pukulan Uppercut di awal November yg operasi lapangannya dipimpin oleh mantan Kapolri LSP bersama faksi Solo di dalam Kabinet Prabowo.
Bersyukur bahwa Presiden Prabowo berhentikan Kapolri LSP tgl 1 Oktober 2026.Baca JugaLangkah-langkah yang telah dilakukan antara lain :
1) penyadapan kepada Presiden, pejabat, pimpinan parpol dll yang berseberangan dg geng SOP.
2) operasi meronrong kepercayaa rakyat kepada Prabowo, seperti : kelangkaan BBM, sabotase MBG, ganggu pasar modal, pemadaman listrik PLN, dll. Ini dilakukan kerjasama antara Parcok (LSP) dan Menteri loyalis Jokowi.
3) penggalangan massa oleh LSP untuk menguasai Serikat Pekerja dan mempersiapkan organisasi mantan narapidana teroris (napiter).Jaringan makar SOP terhadap Presiden @prabowo masih terdapat di dalam Kabinet Prabowo.
Langkah yang ditunggu agar Presiden @prabowo bisa memenangkan ronde terakhir :
1) pecat semua pejabat loyalis Jokowi
2) tutup jalur logistik geng SOP : judi online, narkoba, cuci uang, tambang ilegal dll.— Muhammad Said Didu (@msaid_didu) November 7, 2026