Saiful Mujani: Penyadapan Prabowo Bentuk ‘Perlawanan Jokowi’ Cegah Gibran Lengser!

DEMOCRAZY.ID – Guru Besar Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani, mengaku terkejut dan tidak menyangka atas mencuatnya dugaan keterlibatan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam skandal penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Saiful menilai aksi penyadapan tersebut sangat ironis mengingat Listyo Sigit merupakan salah satu figur kunci yang memiliki kontribusi besar dalam melapangkan jalan kemenangan Prabowo pada Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.

Kemenangan tersebut, menurut Saiful, tak lepas dari peran Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) yang menggerakkan jaringan komando di tubuh kepolisian.

“Pak Sigit itu kontribusinya sangat besar memenangkan Pak Prabowo. Jadi, bukan karena faktor Pak Prabowo sendiri dia bisa jadi presiden. Faktor Pak Jokowi juga sangat penting dari data yang saya punya,” kata Saiful dalam kanal YouTube 2045, dikutip Jumat (6/11/2026).

Lebih lanjut, Saiful terang-terangan menyebut Listyo sebagai operator politik utama Jokowi yang bertugas mengamankan suara untuk Prabowo.

Ia bahkan mengaitkan peran vital mantan Kapolri tersebut dengan istilah “Partai Cokelat” atau “Parcok” yang sempat menyita perhatian publik.

“Operator Pak Jokowi untuk memenangkan Pak Prabowo, semua orang tahu ya Parcok (Partai Cokelat), Parcok komandannya ya Pak Sigit. Makanya saya enggak paham kok bisa Pak Sigit menyadap Pak Prabowo,” ujarnya heran.

Dilihat dari kacamata analisis politik, Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ini menduga bahwa dugaan penyadapan ilegal tersebut dipicu oleh merenggangnya komunikasi politik antara Prabowo dan Jokowi di pucuk kekuasaan.

Saiful menafsirkan aksi penyadapan tersebut bukan sekadar insiden pelanggaran privasi biasa, melainkan bentuk perlawanan dari kubu Jokowi yang mulai merasa terdesak.

Langkah ekstrem ini diduga kuat menjadi strategi benteng pertahanan terakhir guna mengantisipasi manuver politik yang mengarah pada pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Perubahan karena komunikasi antara Prabowo-Jokowi relatif tak lancar atau terputus. Ini bentuk perlawanan Jokowi karena sudah frustrasi. Bagaimana caranya ini, sebagai langkah antisipasi untuk mencegah pemakzulan Gibran Rakabuming Raka,” pungkas Saiful.

Sebelumnya, Presiden RI ke-7 Joko Widodo, memberi tanggapan singkat terkait kasus penyadapan terhadap Presiden Prabowo yang diduga melibatkan eks Kapolri Listyo Sigit.

“Kita menghormati proses hukum yang ada,” kata Jokowi setelah menghadiri sidang dugaan pencemaran nama baik serta tudingan ijazah palsu di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (05/11).

Listyo Sigit menjabat sebagai Kapolri di era pemerintahan Jokowi.

Listyo dipandang sebagai sekutu politik Jokowi di kepolisian.

Kasus penyadapan ini diduga sebagai pertarungan elite yang memperlebar keretakan Jokowi-Prabowo.

Artikel terkait lainnya