DEMOCRAZY.ID – Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) menyambut positif peluncuran riset terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik Transformatif 2029: Studi Evaluasi Opinion Leaders” yang dirilis Kamis (15/10/2026).
Dalam studi evaluasi terhadap 31 tokoh nasional tersebut, salah satu pendiri MTI, Sudirman Said, menempati posisi penilaian kualitas kepemimpinan yang melampaui Presiden dan Wakil Presiden.
Sudirman Said tercatat meraih skor rata-rata kualitas kepemimpinan sebesar 6,3 pada skala 0–10.
Capaian angka tersebut berada di atas perolehan skor Presiden Prabowo Subianto yang mencatatkan 5,1 dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di angka 4,4, serta mengungguli sederet ketua umum partai politik lainnya.
MTI memetakan dua faktor utama yang mendasari signifikansi riset ini bagi diskursus kepemimpinan publik:
Faktor pertama (Kompetensi Penilai): Studi ini melibatkan 200 opinion leaders yang terdiri dari 166 akademisi lintas disiplin ilmu dan 34 jurnalis senior yang memahami rekam jejak para tokoh secara setara.
Dari total responden ahli tersebut, 149 orang di antaranya bersedia identitasnya dipublikasikan sebagai penilai.
Aspek akuntabilitas ini diperkuat oleh pengakuan terbuka SMRC bahwa studi berjalan secara deskriptif, bukan inferensial.
Faktor kedua (Sepuluh Kriteria Penilaian): Kriteria penilaian dinilai menjawab tantangan pengelolaan negara, meliputi:
Tolak ukur tersebut dinilai menitikberatkan pada persoalan mendasar tata negara, alih-alih terbatas pada aspek popularitas dan elektabilitas.
Penilaian terhadap Sudirman Said juga dinilai representatif mengingat posisinya saat ini tidak sedang memangku jabatan publik maupun memimpin partai politik, sehingga evaluasi berpusat pada rekam jejak personal.
“Sudah waktunya proses seleksi dan promosi sumber kader kepemimpinan ditata ulang. Survei ini merupakan salah satu inovasi agar kepemimpinan politik masa depan tidak berputar-putar pada nama-nama tertentu yang tidak mencerminkan kapasitas terbaik. Bangsa ini punya stok yang sangat kaya akan potensi pemimpin nasional,” ujar Direktur Eksekutif MTI, Ahmad Jilul QF, Jumat (16/10/2026).
Fokus MTI terhadap kepemimpinan nasional memiliki keterkaitan historis sejak lembaga ini mendukung pencalonan Nurcholish Madjid dalam bursa pemilihan presiden 2004 lewat Perkumpulan Membangun Kembali Indonesia (PMKI).
Prinsip good governance dipandang memerlukan good leader yang berintegritas, berkompeten, serta memiliki komitmen kuat pada demokrasi dan kesejahteraan rakyat.
Temuan evaluasi SMRC mengindikasikan ketersediaan figur berkapasitas di luar lingkaran kekuasaan maupun struktur partai politik formal.
Terhadap hasil tersebut, MTI mendorong partai politik, elemen masyarakat sipil, dan publik luas agar memprioritaskan parameter kualitas kepemimpinan ketimbang sekadar faktor kedekatan kekuasaan dalam menyongsong kepemimpinan nasional 2029.