DEMOCRAZY.ID – Gestur Presiden Prabowo Subianto saat peringatan HUT ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026), menjadi sorotan.
Usai sesi foto bersama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), Prabowo terlihat berbincang dengan SBY yang berdiri di sisi kanannya.
Setelah sesi foto, Prabowo kemudian menghadap ke arah SBY, memberikan salam hormat dan berjabat tangan.
Setelah itu menyalami Komandan Upacara Letjen TNI Lucky Avianto.
Sementara Jokowi yang berdiri di sisi kiri Prabowo tidak terlihat mendapat jabat tangan dalam momen tersebut.
Momen itu menjadi perhatian karena pada awal kedatangannya di arena HUT TNI, Prabowo sempat memberikan salam hormat dan berjabat tangan dengan Jokowi.
Momen tersebut juga terekam dalam sejumlah pemberitaan mengenai kedatangan Prabowo di Lapangan Prima Mabes TNI.
👇👇
Wow prabowo hanya menyalami SBY dan jalan bersama tanpamemperdulikan jokowi ada di sebelahnya
Udah mulai terang terangan cuekin Jokowi dalam acara HUT TNI, Keretakan Hubungan Semakin Nyata https://t.co/cxT9T9RCKqBaca Juga— Jawa (@independentjawa) October 5, 2026
Perbedaan gestur tersebut kemudian memunculkan spekulasi mengenai hubungan politik Prabowo dengan Jokowi dan kelompok yang selama ini diasosiasikan dengan kekuatan politik Solo.
Sorotan itu muncul di tengah perubahan di pucuk pimpinan aparat keamanan.
Empat hari sebelum HUT TNI, Prabowo melantik Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri menggantikan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Suyudi dilantik di Istana Negara pada Kamis (1/10/2026), berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 96/POLRI Tahun 2026.
Pergantian tersebut mengakhiri masa jabatan Listyo yang diangkat sebagai Kapolri pada era Presiden Jokowi.
Kini, perhatian mulai mengarah ke pucuk pimpinan TNI.
Jenderal TNI Agus Subiyanto saat ini masih menjabat Panglima TNI.
Agus diangkat menjadi Panglima TNI oleh Jokowi pada November 2023, setelah sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat.
Sebelum menjadi KSAD, Agus juga pernah dipercaya Jokowi sebagai Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Riwayat tersebut membuat nama Agus kerap dikaitkan dengan lingkaran kekuasaan Jokowi.
Namun, Agus hingga kini masih aktif sebagai Panglima TNI dan pada HUT ke-81 TNI tetap mendampingi Prabowo dalam rangkaian acara di Mabes TNI.
Pada acara yang sama, Prabowo juga memberikan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipurna kepada Agus.
Persoalan masa jabatan juga tidak otomatis membuat Agus harus segera diganti.
Perubahan aturan mengenai batas usia pensiun prajurit TNI memberi ruang lebih panjang bagi perwira tinggi untuk tetap berdinas.
Jika pergantian Panglima dilakukan, keputusan tersebut lebih merupakan pilihan Presiden dalam menentukan konfigurasi kepemimpinan TNI daripada semata-mata persoalan usia pensiun.
Sejumlah nama kepala staf tiga matra pun berpotensi masuk dalam bursa jika Prabowo membuka opsi pergantian Panglima.
Dari Angkatan Darat, nama KSAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menjadi salah satu kandidat dengan jalur formal paling jelas.
Maruli saat ini merupakan perwira aktif bintang empat yang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat.
Selain Maruli, nama Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita juga menjadi perhatian.
Tandyo kini menempati posisi strategis sebagai Wakil Panglima TNI.
Namun, berbeda dengan tiga kepala staf angkatan, Tandyo belum pernah menjabat sebagai kepala staf matra.
Dari Angkatan Laut, nama KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menjadi kandidat potensial.
Ali saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut dan termasuk dalam tiga kepala staf angkatan yang hadir bersama Prabowo dalam berbagai agenda strategis pemerintah.
Sementara dari Angkatan Udara, nama KSAU Marsekal TNI M.
Tonny Harjono juga berada dalam bursa.
Tonny saat ini menjabat Kepala Staf Angkatan Udara.
Ketiga kepala staf tersebut—Maruli, Muhammad Ali, dan M.
Tonny Harjono—bahkan menerima Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adi Pradana dari Prabowo dalam rangkaian HUT ke-81 TNI.
Tandyo juga menerima penghargaan yang sama.
Komposisi tersebut membuat pergantian Panglima, jika benar terjadi, berpotensi menjadi keputusan penting bagi arah kepemimpinan TNI di bawah Prabowo.
Secara aturan, jabatan Panglima TNI dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap matra yang sedang atau pernah menjabat sebagai kepala staf angkatan.
Karena itu, secara administratif, Maruli, Muhammad Ali, dan M.
Tonny Harjono memiliki posisi yang lebih langsung dibandingkan Tandyo untuk masuk dalam proses pencalonan.
Namun, faktor tradisi rotasi matra bukan satu-satunya pertimbangan dalam penentuan Panglima.
Presiden memiliki kewenangan mengajukan calon Panglima kepada DPR setelah mempertimbangkan kebutuhan organisasi dan pertahanan negara.
Karena itu, jika pergantian Panglima benar-benar dilakukan, keputusan tersebut akan menjadi salah satu langkah penting Prabowo dalam menentukan konfigurasi kepemimpinan pertahanan pada fase berikut pemerintahannya.
Momen Prabowo yang tidak terlihat menyalami Jokowi setelah sesi foto memang belum cukup untuk disebut sebagai tanda perang terbuka dengan kelompok politik Solo.
Ketika momen tersebut muncul bersamaan dengan pergantian Kapolri dan spekulasi mengenai masa depan Panglima TNI, sorotan terhadap arah konsolidasi kekuasaan Prabowo menjadi semakin kuat.
Pertanyaan yang cukup relevan sekarang justru, siapa yang akan menjadi pengganti Agus Subianto setelah orang-orang yang diangkat Jokowi satu per satu mulai digeser dari posisinya.