“Menjinakkan Lawan Jadi Kawan” Kupas Tuntas Manuver Cerdik Prabowo Kumpulkan 26 Tokoh Jadi Satu Kandang Wantimpres!

26 WANTIMPRES: Strategi Prabowo Mengumpulkan Kubu Yang Berbeda Dalam Satu Kandang

Oleh: Gede Pasek Suardika

Dalam sejarah keberadaan Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) yang dulu dipadankan dengan DPA (Dewan Pertimbangan Agung) yang sudah dihapus maka baru kali ini jumlahnya sangat banyak.

Konsep DPA lalu Wantimpres sebenarnya konsep yang mirip diperankan dalam jaman kerajaan di Nusantara.

Setiap Raja akan memiliki Bhagawanta Raja.

Jika dulu biasanya diisi para pendeta yang memiliki kesucian, pendalaman sastra berbagai keilmuan serta kemampuan waskita yang kuat, maka saat ini diisi aneka profesi dengan kharakter beragam.

Jika di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jumlahnya hanya 9 orang dan di era Presiden Joko Widodo juga berjumlah 9, maka di era Presiden Prabowo Subianto jumlahnya melonjak menjadi 26 orang.

Tentu sekelas Prabowo memiliki strategi khusus kenapa ditempatkan begitu banyak Wantimpres.

Selain jumlah, yang menarik adalah formasi yang dibangun Prabowo kali ini.

Tentu banyak analisa yang muncul, dari sekadar bagi-bagi jabatan atau inkonsistensi pencanangan program efisiensi dalam kebijakan hingga angka Rp 76,5 juta per bulan per orang untuk mereka dari APBN.

Saya membaca strategi Prabowo mengumpulkan satu kandang kubu yang berbeda adalah cara jitu untuk mengendalikan dengan terukur.

Bayangkan sosok Rocky Gedung yang bolak balik menyerang pemerintahan Jokowi kini harus satu rumah dengan die hard Jokowi.

Dalam hal ini Prabowo cukup mumpuni mengatur puzzle politiknya.

Kedunguan ala Rocky Gedung yang anti Jokowi harus bertemu dengan ketua Wantimpres Pratikno dan Anwar Usman yang nunggu ke sumsum dan tulangnya adalah Jokowi dalan satu ruangan.

Mereka harus bersenda gurau membangun Wantimpres yang kompak.

Prabowo juga cukup gunakan dana APBN untuk mengendalikan dan meninabobokan mereka sekaligus menjadi corong opini keberhasilan pemerintah.

Banyak yang membaca jika apa yang dilakukan Prabowo sangat menghormati Jokowi dengan memposisikan ketua Wantimpres Pratikno.

Tetapi sebenarnya itu taktik jitu yang sulit ditebak arahnya.

Saya justru membaca ini gerakan halus mengendorkan pengaruh Jokowi dalam kekuasana pemerintah.

Jika dulu Pratikno menjadi Menko PMK maka ada jejaring politik yang bersentuhan dengan jaringan suara.

Kesejahteraan yang memiliki kekuatan politik elektoral mirip politik bansos.

Sekarang udah diisi Sugiono yang merupakan Sekjen Gerindra.

Praktis gerakan kebijakan sosial dan kemanusiaan nanti dampak elektoral tidak lagi ke Jokowi.

Lalu posisi Ketua Wantimpres untuk die hard Jokowi?

Ya jabatan terlihat tinggi tapi tidak punya kaki bahkan hanya berhubungan dengan Presiden.

Mau dipakai atau tidak ya suka Presiden.

Hal yang sama juga disematkan ke mahapatih Jokowi yaitu Listyo Sigit Prabowo yang dari Kapolri memiliki jaringan Parcok hingga ke desa menjadi Kepala KSP yang berkuasa sekitar Gedung Bina Graha sekitar Presiden.

Mereka dinaikkan untuk diredam kekuatannya.

Bahkan untuk Listyo Sigit, kurang dari 24 jam sejak diganti 19 pasukan inti yang pegang teritorialnya (Kapolda) dirotasi tanpa sempat konsolidasi ulang.

Tidak hanya itu di Wantimpres dengan jumlah 26 akan menyulitkan Pratikno melakukan konsolidasi untuk memperkuat jaringan Jokowi di istana. Dinaikkan untuk dininabobokan. Begitulah kira-kira.

Jadi walau berusaha dikemas, didesain dan ditata dengan begitu manis, tetap bacaan bahwa era menuju matahari tunggal telah makin sempurna.

Apalagi posisi Wapres Gibran Rakabuming yang makin diperankan sebagai pelengkap aksesoris kekuasaan.

Tetapi yang tetap menarik adalah mazhab Jokowisme bukankah kekuatan yang sederhana untuk dipatahkan.

Rekam jejak panjang tanding pemilihan langsung yang 5 kali tidak terkalahkan telah membuktikannya.

Akan tetap menarik pertarungan ini ke depannya. ***

Artikel terkait lainnya