DEMOCRAZY.ID – Sayembara untuk menemukan ijazah SMA atau sederajat milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali mengalami penambahan nilai.
Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana, mengumumkan kenaikan nilai hadiah hingga mencapai Rp300 juta.
Denny menyebut kenaikan tersebut terjadi dalam waktu kurang dari sepekan sejak sayembara diumumkan.
Ia juga mengklaim sampai saat ini belum ada peserta yang berhasil menunjukkan ijazah SMA atau dokumen pendidikan setara milik Gibran.
Denny mengatakan dana hadiah yang terkumpul mengalami peningkatan signifikan.
Ia menegaskan, nilai hadiah kini mencapai Rp300 juta atau meningkat 300 persen dibandingkan nilai awal yang diumumkan.
“Update sayembara ijazah SMA Gibran, yang dicari Ijazah SMA, yang ketemu karet gelang,” ujar Denny, Minggu (16/8/2026).
Ia kemudian menyebut belum ada pihak yang berhasil memenuhi tantangan tersebut.
“Belum seminggu, sumbangan untuk hadiah sayembara menemukan Ijazah Gibran sudah naik 300 persen,” Denny menuturkan.
“Per detik ini, hadiahnya sudah naik menjadi Rp 300 Juta,” tambahnya.
Denny melanjutkan, hingga saat ini belum ada peserta sayembara yang berhasil menunjukkan ijazah SMA atau dokumen yang disebutnya setara dengan ijazah tersebut.
“Sejauh ini tidak ada satupun peserta yang berhasil menemukan ijazah SMA atau sederajat Mas Wapres,” tukasnya.
Ia kemudian mengaitkan pernyataannya dengan video Gibran yang sebelumnya menjadi perhatian publik karena terlihat memainkan karet gelang ketika berdialog dengan warga.
“Mas Wapres sendiri malah menenukan permainan karet gelang,” jelasnya.
Denny kemudian menarik kesimpulan politik dari polemik tersebut.
Ia menyatakan apabila ijazah SMA atau sederajat yang dimaksud memang tidak ada, maka menurutnya Gibran semestinya mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden.
“Jika tidak ada ijazah SMA atau sederajat, Gibran layak mundur, atau dimundurkan,” imbuhnya.
Selain memperbarui nominal hadiah, Denny juga membuka kesempatan bagi pihak lain yang ingin ikut menyumbang untuk sayembara tersebut.
“Catatan, tertarik menyumbang silakan japri saya. Penyumbang dirahasiakan,” terangnya.
Denny menegaskan dana tidak perlu diberikan terlebih dahulu.
Baginya, pembayaran hadiah baru dilakukan apabila dokumen yang dicari berhasil ditemukan dan terdapat pihak yang dinyatakan sebagai pemenang.
“Dana tidak perlu dikirimkan, kecuali Ijazah ditemukan, dan ada pemenang,” tandasnya.
👇👇
Lihat postingan ini di Instagram
Baca JugaSebuah kiriman dibagikan oleh Denny Indrayana (@dennyindrayana99)
Sebelumnya, Jubir PSI, Dian Dandi Utama, tegas mempertanyakan syarat sayembara yang secara spesifik meminta masyarakat menunjukkan ijazah SMA Gibran.
Dikatakan Dian, dokumen yang dimaksud memang tidak akan ditemukan apabila yang dicari adalah ijazah SMA dalam pengertian seperti yang dipersyaratkan dalam sayembara tersebut.
“Barang tidak ada disayembarakan, itu seperti mau ngasih duit tapi disuruh nyari telur kambing!,” ujar Dian, Jumat (14/8/2026).
Ia kemudian menyinggung sejumlah dokumen pendidikan Gibran yang sebelumnya telah menjadi bagian dari polemik di ruang publik.
Dian menyebut dokumen dari Orchid Park Secondary School maupun UTS Insearch pernah ditunjukkan, tetapi masing-masing kemudian kembali dipersoalkan.
Kata dia, ketika dokumen pendidikan dari Orchid Park ditampilkan, muncul anggapan bahwa dokumen tersebut hanya setara pendidikan SMP.
“Ditunjukkan dr Orchid Park, dibilang setara SMP. Ditunjukkan dari UTS Insearch, dibilang setara Kursus,” tukasnya.
Karena itu, Dian mempertanyakan kembali objek yang sebenarnya ingin dicari melalui sayembara tersebut.
Dian menilai polemik yang terus berulang tersebut menunjukkan persoalan yang menurutnya tidak semestinya terjadi.
Ia bahkan menyindir kondisi tersebut sebagai karakteristik yang kerap muncul di negara berkembang.
“Emang ciri Negara berkembang!,” tegasnya.
Dian bilang, apabila yang secara spesifik dicantumkan adalah pencarian ijazah SMA, maka dokumen tersebut memang tidak tersedia sebagaimana yang dimaksud dalam sayembara.
“Sayembaranya tertulis ijazah SMA, ya memang tidak ada,” kuncinya.