DEMOCRAZY.ID – Ketua DPP PSI Bidang Litbang, Dedek Prayudi, ikut menantang balik Pakar Hukum Tata Negara, Prof Denny Indrayana terkait sayembara ijazah SMA Wapres Gibran Rakabuming Raka.
Dedek melihat sayembara yang dibuat Denny dengan hadiah yang kini mencapai Rp300 juta justru berpotensi membangun persepsi seolah-olah ijazah Gibran bermasalah.
Ia pun menawarkan taruhan langsung kepada Denny. Dedek menyatakan siap memberikan Rp200 juta jika Denny mampu membuktikan ijazah SMA Gibran palsu.
Sebaliknya, Dedek meminta Denny membayar nominal yang sama apabila tudingan tersebut tidak berhasil dibuktikan.
Dedek menegaskan, besarnya hadiah tidak serta-merta mengubah prinsip pembuktian dalam sebuah tuduhan.
“Pak Denny, udahlah, uang sayembara Rp169 juta (Rp300 juta) saat ini dinaikkan itu nggak membuat pihak tertuduh yang harus membuktikan tuduhan pasif-agresif anda,” ujar Dedek, Jumat (16/8/2026).
Alih-alih mengikuti pola sayembara tersebut, Dedek menawarkan mekanisme taruhan yang menurutnya lebih sederhana.
“Mending saya yang taruhan aja sama anda. Kalau anda bisa buktikan bahwa ijazah SMA Mas Gibran palsu, saya yang kasih Rp200 juta buat anda,” ucapnya.
“Tapi kalau anda tidak bisa membuktikan bahwa ijazah Mas Wapres palsu, anda kasih saya Rp200 juta,” sambung dia.
Dedek kemudian mempertanyakan tujuan di balik sayembara tersebut. Ia menilai Denny menggunakan pola yang menurutnya dapat membalik beban pembuktian.
“Jujur aja lah, anda itu kan ingin menggulirkan isu bahwa ijazah SMA Mas Gibran itu palsu, tapi menggunakan logika terbalik,” tukasnya.
Lanjut Dedek, sayembara dengan hadiah besar dapat menciptakan kesan bahwa pihak yang mampu menunjukkan ijazah asli sedang ditantang, padahal tudingan mengenai keabsahan dokumen seharusnya terlebih dahulu disertai bukti.
Dedek juga memprediksi kemungkinan yang dapat terjadi apabila tidak ada pihak yang mengikuti sayembara tersebut.
“Kalau tidak ada yang tertarik, awal-awalnya Anda naikin nominal hadiah sembara. Lama-lama, anda akan menggunakan ketidak tertarikan publik,” sebutnya.
Ia menekankan bahwa kondisi tersebut kemudian bisa diarahkan untuk membangun kesimpulan tertentu di tengah masyarakat.
“Untuk kemudian anda menyimpulkan bahwa tidak ada yang bisa membuktikan ijazah Mas Gibran asli,” jelasnya.
Dedek berujar, pola tersebut berpotensi membuat tudingan tetap hidup meski tidak disertai pembuktian langsung.
“Ini kan secara nggak langsung membangun persepsi tuduhan. Tuduhan ijazah Mas Gibran palsu, tanpa punya bukti, tapi sambil menyisakan ruang untuk berkelit,” imbuhnya.
Ia menggambarkan kemungkinan respons yang dapat muncul setelah polemik tersebut berkembang.
“Loh, saya nggak pernah loh bilang ijazah Mas Wapres palsu. Kemudian karena tidak ada yang mengikuti sayembara anda, lalu kembalilah ke taruhan aneh itu,” timpalnya.
Menurut Dedek, rangkaian tersebut pada akhirnya dapat digunakan untuk memperkuat desakan agar Gibran mengundurkan diri.
“Maka anda merasa berhak untuk meminta terus mas Wapres mundur, karena merasa menang taruhan,” cetusnya.
Lebih jauh, Dedek turut mengaitkan polemik tersebut dengan Roy Suryo. Ia kemudian menggunakan analogi propaganda untuk menggambarkan bahaya pengulangan sebuah tuduhan.
“Akhir kata, orang-orang seperti Roy Suryo dan Denny Indrayana ini mungkin terinspirasi oleh propagandis Jerman yang pernah bilang, if you tell a lie big enough and keep repeating it, people will eventually come to believe it,” terangnya.
Dedek kemudian menerjemahkan maksud pernyataan tersebut, “Jika Anda mengatakan kebohongan yang cukup besar dan terus mengulanginya, orang-orang akhirnya akan mempercayainya,” tandasnya.
Ia pun mengajak publik agar tidak mudah terbawa oleh narasi yang terus berulang tanpa pembuktian.
“Mari kita lawan kebohongan-kebohongan itu dengan kewarasan,” kuncinya.